Antara Kemudahan dan Ketergantungan: Bagaimana Gen Z dan Milenial Memanfaatkan ChatGPT
- Data-driven Storytelling UMN
- Dec 16, 2024
- 5 min read

SERPONG, INDO.COM - ChatGPT merupakan terobosan teknologi yang kini semakin digemari oleh masyarakat Indonesia. Penggunaannya juga tidak hanya berfokus pada satu kalangan, contohnya pada Generasi Z dan Milenial. Namun, tujuan penggunaan ChatGPT antar kedua generasi tersebut berbeda.
Salah satu contohnya adalah Haziel (13), seorang pelajar yang menggunakan ChatGPT untuk menyelesaikan pekerjaan sekolahnya.
"Aku gak usah ada mikir dulu tinggal nanya ChatGPT, jadi gak usah sibuk mikir jawaban,” ujar Haziel.
Kini penggunaan ChatGPT menjadi hal yang lumrah dan telah menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari. Baik dalam pendidikan, pekerjaan, maupun hiburan. Hal ini menunjukkan bahwa eksistensi ChatGPT memiliki dampak yang luas.
Hasil survei menunjukkan bahwa tidak semua kelompok usia menggunakan ChatGPT dengan cara yang sama. Dibalik popularitasnya, ternyata ada perbedaan antar kelompok generasi yang memanfaatkan ChatGPT.
Perbedaan ini mencakup frekuensi penggunaan, ketergantungan, tingkat kepercayaan, dan tujuan penggunaan ChatGPT.
Generasi Milenial Lebih Banyak Menggunakan ChatGPT

(Angka merupakan persentase dari responden survei, bukan jumlah orang).
Berdasarkan data survei Google Form yang dilakukan oleh tim, sebanyak 36% dari Generasi Z dan 60% dari Generasi Milenial mengaku sering menggunakan ChatGPT, dengan memilih skala 4 dalam kategori frekuensi penggunaan.
Hal ini menunjukkan bahwa Generasi Milenial lebih sering memanfaatkan ChatGPT dibanding Generasi Z.

(Angka merupakan persentase dari responden survei, bukan jumlah orang).
Sebanyak 9,3% dari Generasi Z mengaku bergantung pada ChatGPT untuk melakukan berbagai aktivitas. Mahasiswa yang sering menggunakan ChatGPT untuk menyelesaikan tugas akademiknya, yang pada akhirnya memicu diskusi tentang dampak negatif dari ketergantungan ini.
Sementara itu, sebanyak 16,9% Generasi Milenial juga mengaku memiliki ketergantungan serupa.
Bahkan, dari kalangan pelajar juga sudah menggunakan ChatGPT. Contohnya, Abraham Marchelov (21), seorang mahasiswa yang menceritakan bahwa ia menggunakan ChatGPT untuk membantunya dalam pembelajaran hingga mendapatkan nilai A dalam kuliahnya.
“Banyak hal sih (manfaat ChatGPT), bikin surat e-mail, buat belajar UAS, merangkum tugas, bikin tugas, pokoknya sekarang udah always based on ChatGPT.” tutur Abraham.
Namun, penggunaan pada generasi milenial ini tidak terbatas pada pembelajaran saja, tetapi juga meluas ke dunia kerja.
Seorang mahasiswa sekaligus pekerja, Abdun (20), menggunakan ChatGPT untuk mencari dan memproses pengetahuan. Ia merasa terbantu dengan adanya ChatGPT dalam pekerjaan dan pendidikannya.
Sisi positifnya, Abraham tidak merasa bergantung kepada ChatGPT. Ia selalu mengolah kembali data yang diperoleh ChatGPT dan melakukan parafrase.
Di lain sisi, sebanyak 16,9% dari Generasi Milenial mengaku bergantung kepada penggunaan ChatGPT. Bukan hanya digunakan untuk belajar, melainkan juga untuk bekerja.
Berbeda dengan Generasi Z yang lahir dengan teknologi, kaum milenial merupakan kaum yang masih harus beradaptasi, seperti yang dialami oleh Veronika (30).
Ia merupakan seorang pekerja dari Generasi Milenial yang mengungkapkan bahwa untuk mengeksplor ChatGPT memang membutuhkan proses adaptasi untuk mengeksplor ChatGPT.
“ChatGPT awalnya terasa seperti pesaing, tapi akhirnya menjadi rekan kerja yang tidak pernah lelah. Saya yang harus belajar mengarahkan, bukan melawan,” ujarnya.
Berbeda dengan Gen Z yang lahir dengan teknologi, kaum milenial merupakan kaum yang masih harus beradaptasi.
Menurut Pengamat Komunikasi Digital dari Universitas Indonesia (UI) Firman Kurniawan, perbedaan ini dapat dijelaskan dengan pola asuh teknologi yang berbeda.
“Terlebih kalau semakin muda umurnya, semakin banyak yang pakai karena sejak lahir sudah berkenalan dengan mobile seluler yang dilengkapi dengan AI. Jadi, bagi Gen Alpha maupun Gen Z, AI adalah kelengkapan hidup yang wajib ada dan wajib dipakai. Beda dengan seperti generasi saya, Gen X, kami melihatnya seperti barang baru, masih harus belajar dulu dan masih harus tahu gunanya,” ujarnya.
ChatGPT Mempermudah Pekerjaan dan Proses Belajar

(Angka merupakan persentase dari responden survei, bukan jumlah orang).
Hasil data survei di atas membuktikan bahwa ChatGPT memiliki peran penting baik dalam dunia pekerjaan maupun pendidikan.
Sebanyak 39% dari bagian Generasi Z dan 43,4% dari Generasi Milenial menganggap penggunaan ChatGPT sebagai hal yang penting.
Adi Wibowo, salah satu dosen di Universitas Multimedia Nusantara, menjelaskan penerapan AI dalam pekerjaannya sehari-hari.
“Saya pakai multiple AI, karena setiap AI macam-macam. Saya pakai ChatGPT, Claude AI, dan milik Facebook (META). Kalau saya biasanya pakainya karena saya eksperimennya banyak. Computational social science butuh coding dan coding itu melelahkan. Jadi, sekarang saya bypass proses coding manualnya.” jelasnya.
Selain itu, Adi juga menggunakan AI dalam proses akademisnya, seperti untuk menerjemahkan berbagai tulisan, artikel, serta jurnal dari berbagai bahasa. Menurutnya, trik dalam menggunakan AI yakni harus menjaga penggunaan AI agar tidak mencederai etika ilmiah.
“Jadi kalau saya biasanya, ketemu artikel jurnal, lalu ditulis pakai bahasa Spanyol, sekarang saya bisa masukin, saya minta dia jelasin atau translate ke bahasa Inggris. Jadi saya sumber referensinya jadi lebih luas, tidak hanya bahasa Inggris dan bahasa Indonesia saja,” ujar Adi.
Penggunaan ChatGPT Tetap Perlu Diwaspadai
Dari hasil data-data sebelumnya, dapat diketahui bahwa saat ini penggunaan ChatGPT sangat marak. Artinya, banyak orang menerima dan menggunakan informasi yang diberikan oleh ChatGPT.
Hal tersebut tetap harus menjadi kewaspadaan bagi semua penggunanya. Visualisasi data di bawah menunjukkan seberapa banyak orang yang percaya sampai tidak percaya dengan penggunaan ChatGPT.

(Angka merupakan persentase dari responden survei, bukan jumlah orang).
Data di atas merupakan hasil survei yang menunjukkan sebanyak 67,46% orang sudah merasa percaya dengan tingkat akurasi informasi yang diberikan oleh ChatGPT. Sementara 40,7% lainnya masih merasa kurang percaya dengan tingkat akurasi ChatGPT.
Meski demikian, penting diingat bahwa tingkat akurasi ChatGPT tergantung pada banyak hal, seperti data, sumber data, struktur, semi terstruktur, dan tidak terstruktur.
Kesalahan pada ChatGPT sendiri terdiri dari kesalahan data, munculnya bias, halusinasi, dan adanya penurunan kognitif.
Firman Kurniawan, seorang pengamat komunikasi digital Universitas Indonesia (UI) menjelaskan tentang tiga kesalahan yang bisa terjadi pada pengaplikasian AI atau ChatGPT.
Pertama, kesalahan data. Firman menjelaskan bahwa ChatGPT dapat menampilkan hasil yang tidak seimbang karena hasil akhirnya berdasarkan pada data-data yang diberikan.
"Sebagai contoh, di Amerika, secara statistik, banyak orang kulit hitam ditangkap sebagai pelaku kriminal. Ketika ditanyakan pada AI, 'warna kulit apa yang paling banyak melakukan kejahatan?' Kemungkinan besar yang akan muncul adalah orang kulit hitam. Ini adalah contoh bias data," jelas Firman.
Kedua bias data. Firman menambahkan, jika digunakan dalam sistem keamanan, AI yang terlatih dengan data bias ini cenderung lebih mencurigai orang berkulit hitam daripada kulit putih atau Asia. Padahal tidak berarti orang kulit hitam melakukan kejahatan.
Kesalahan yang ketiga adalah AI Hallucination, atau halusinasi. Suatu fenomena yang mana AI menginterpretasikan dalam menghasilkan informasi.
"Contoh sederhananya, jika AI mempelajari kalimat 'Amir makan nasi pagi ini’, AI bisa menganggap bahwa struktur SPOK (Subjek-Predikat-Objek-Keterangan) adalah satu-satunya cara yang benar untuk menyusun kalimat. Ketika AI diberi kalimat dengan struktur yang berbeda, ia bisa mengira itu adalah hasil dari dirinya sendiri," lanjut Firman.
Pakar Sarankan Tetap Kritis dalam Penggunaan ChatGPT

Menurut Harry Sufehmi, pendiri Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (MAFINDO), senjata paling pamungkas dalam menghadapi AI adalah berpikir kritis agar tidak mudah termakan hoaks.
“Supaya tidak termakan hoaks ya, jadi senjata kita itu senjata pamungkas kita adalah berpikir kritis,” ujarnya.
Di sisi lain, Firman juga memberikan langkah agar tidak mudah termakan hoaks.
“Satu, jangan tidak jujur. Dua, jangan tertipu bahwa AI merupakan alat yang sempurna. Ketiga, jangan bergantung pada AI,” paparnya.
Dapat disimpulkan bahwa ChatGPT merupakan teknologi yang mampu memberikan banyak manfaat yang berkualitas untuk membantu berbagai persoalan di kalangan masyarakat.
Namun, penggunaannya perlu diwaspadai dan digunakan secara bijak dan selektif agar tidak menimbulkan dampak negatif yang merugikan. Masyarakat juga perlu menyadari batasan dalam penggunaan ChatGPT agar tidak menimbulkan ketergantungan berlebih.
“Sampai batas dia butuh dibantu. Kalau tidak perlu dibantu, tidak usah dipakai. Jadi, teknologi AI digunakan untuk membantu,” tutup Firman.
Artikel dibuat oleh:
Claudine Caiyadi : Pembuat visualisasi data dan penulis artikel.
Jesslyn Gunawan Wijaya : Reporter dan editor artikel.
Kezia Essie Awuy : Reporter, fotografer, dan pembuat visualisasi data.
Putri Aurelia Sari : Reporter, data analyst, dan penulis artikel.
Verlyn Felicia : Reporter, pembuat transkrip, dan penulis artikel.
Artikel ini merupakan tugas Ujian Akhir Semester untuk mata kuliah Data Driven Storytelling. Mata kuliah ini diampu oleh Utami Diah Kusumawati, M.A. dan Ingki Rinaldy, M.A. serta asisten lab Chatarina Ivanka, Ignatia Sarasvati, dan Tiara Febriani.




Comments