top of page
Search

Fatherless: Tumor pada Mental Anak


Ilustrasi/www.npr.org
Ilustrasi/www.npr.org

Fatherless atau keadaan ketika anak tidak merasakan kehadiran sosok ayah, baik secara fisik maupun emosional telah menjadi isu yang terus berkembang sejak lama. Keadaan tersebut tentu menjadi sebuah faktor yang mampu mempengaruhi tumbuh kembang anak, khususnya secara emosional. Sebagian besar anak-anak yang dengan keadaan fatherless tumbuh menjadi sosok dengan ciri emosional tertentu, hingga memengaruhi cara pandang mereka terhadap diri sendiri dan orang lain.  


Fatherless sendiri dapat muncul dari berbagai macam faktor, salah satunya adalah perceraian. Namun, ada hal menarik dari perceraian dan hubungannya dengan fatherless. Umumnya orang akan berpikir bahwa fatherless diakibatkan oleh perceraian, tetapi menurut jurnal ilmiah bertajuk “Fenomena Fatherless: Penyebab Dan Konsekuensi Terhadap Anak Dan Keluarga” yang ditulis oleh Yupi Anesti dan Mirna Nur Alia Abdullah dari Universitas Pendidikan Indonesia pada Mei 2024, fatherless justru menjadi penyebab terjadinya perceraian orang tua. Hal itu disimpulkan berdasarkan kasus-kasus yang memuat bahwa berkurangnya eksistensi ayah lebih dulu terjadi sebelum adanya perceraian. Perceraian diakibatkan oleh renggangnya hubungan.


Terlepas dari semua itu, perceraian dan kerenggangan hubungan orang tua merupakan hal krusial dalam fenomena fatherles. Sejauh ini, angka kasus perceraian di Indonesia, khususnya di Kota Tangerang cenderung meningkat. Jumlahnya berawal dari puluhan, lalu ratusan, hingga ribuan. Jika perluas kembali, dapat dihitung ada jutaan kasus perceraian di Indonesia. Hal tersebut menjadi salah satu indikasi adanya ketidakharmonisan dalam rumah tangga. Ketidakharmonisan tersebut menimbulkan banyaknya kasus-kasus fatherless yang pada era ini kian banyak terjadi.


Berdasarkan data yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Tangerang, tercatat adanya peningkatan jumlah kasus perceraian yang dihitung sejak 2017 hingga 2019. Adapun penurunan pada 2020, tetapi jumlahnya tetap berada pada angka yang memperihatinkan. Hal ini dapat dilihat secara mendetail melalui visualisasi data yang diperoleh.


Visualisasi berdasarkan dataset dari situs resmi Badan Pusat Statistik Kota Tangerang, 24 Maret 2021
Visualisasi berdasarkan dataset dari situs resmi Badan Pusat Statistik Kota Tangerang, 24 Maret 2021

Kerenggangan ataupun perselisihan yang terjadi antara orang tua tidak harus berujung pada perceraian untuk dapat menghasilkan situasi fatherless. Dilansir dari jurnal ilmiah bertajuk “Fenomena Fatherless di Indonesia” yang ditulis oleh mahasiswi dan dosen Universitas Negeri Jakarta, tidak adanya peran ayah bisa berbentuk ketidakhadiran, baik secara fisik juga psikologis pada kehidupan  anak. Meskipun ayah hadir secara fisik dan materi, tetapi bila secara emosional serta psikologis dia tidak memenuhi kewajibannya, maka seorang anak bisa mengalami kondisi fatherless (Carmelita, 2022). Namun terlepas dari semua itu, hal yang secara masif mampu berpengaruh pada situasi fatherless adalah ketika kedua orang tua memutuskan untuk pisah rumah. Dari sebagian besar kasus-kasus yang telah terjadi, hak asus anak dimenangkan oleh ibunya. Dengan demikian, anak-anak yang terdampak lebih banyak tinggal bersama ibu mereka sehingga tercipta rongga jarak antara anak dan ayahnya, baik secara fisik maupun emosional. 



Data dari databoks.katadata.co.id, 2018
Data dari databoks.katadata.co.id, 2018

Pada data di atas, angka-angka yang tertera menunjukkan jumlah persentasi, sedangkan warna menunjukkan kategori yang dimaksud. Berdasarkan data tersebut, dapat diketahui bahwa jumlah anak yang tinggal bersama ayah kandungnya sangatlah sedikit, terlebih jika dibandingkan dengan jumlah anak yang tinggal bersama ibu kandungnya yang jauh lebih banyak dan berada pada urutan kedua terbanyak.


Keadaan tersebut tentu memiliki dampak tersendiri terhadap mental anak selama masa perkembangannya. Tanpa adanya sosok ayah, anak-anak terdampak fatherless merasa berbeda dengan anak-anak lainnya. Sebagian dari mereka tidak pernah merasakan hangatnya kehadiran ayah, sesederhana ketika pulang ke rumah. 


“Orang lain kalau cerita tentang ayahnya seolah penuh harmoni, sedangkan saya tidak merasakannya. Sesederhana ketika saya baru pulang ke rumah, tidak pernah saya merasakan hangatnya kehadiran ayah, atau saat liburan juga tidak pernah lengkap, apalagi foto bersama, saya tidak punya foto bersama dengan kedua orang tua saja secara lengkap, biasanya berganti-gantian. Ya, berbeda lah dengan orang lain,” ujar seorang pemuda fatherless berusia 20 tahun yang namanya tidak ingin disebutkan.


Namun, tidak hanya anak-anak yang orang tuanya bercerai, anak-anak yang orang tuanya tetap tinggal dalam satu rumahpun bisa merasakan situasi fatherless. Perasaan itu tumbuh bukan dimulai dari keterpisahan fisik, melainkan didominasi oleh jauhnya jarak emosional dengan sosok ayah. 


“Sebenarnya, dulu sekali aku pernah dekat dengan papa ketimbang mama, tetapi seiring berjalannya waktu, khususnya dewasa ini, rasanya semakin jauh dengan papa. Sampai akhirnya aku merasa layaknya sudah tidak ada lagi kasih sayang dari papa,” ucap seorang perempuan fatherless yang namanya tidak ingin disebutkan. 


Perasaan-perasaan yang timbul dari pengalaman tersebut membuat anak-anak terdampak fatherless bertumbuh dengan pandangan-pandangan tersendiri terhadap diri sendiri dan orang-orang disekitarnya. Sebagian dari mereka bertumbuh menjadi sosok yang tidak ingin bergantung pada orang lain khususnya laki-laki, dan sebagian lainnya justru tumbuh dengan membawa sifat buruk ayahnya. Namun, tetap saja, keduanya berakibat pada tidak sehatnya mental anak. 


Dilansir dari halodoc.com, ada lima dampak yang umumnya terjadi apabila anak tumbuh tanpa sosok ayah. Pertama, timbulnya gangguan emosional seperti depresi dan kecemasan; Kedua, perkembangan prilaku yang buruk yang sering kali tidak hanya merugikan orang lain, tetapi juga merugikan diri sendiri; Ketiga, rendahnya tingkat kepercayaan diri yang timbil dari perasaan tidak dihargai; Keempat, kesulitan dalam hubungan sosial yang biasanya berhubungan dengan rendahnya rasa percaya dan sulitnya mengekspresikan kepedulian; Kelima, kurangnya dukungan sosial dan finansial.


“Sebenarnya, merasa sedih tuh di awal-awal sih, apalagi waktu masih kecil gitu kan baperan. Sempat merasa tidak punya support sistem dari keluarga, terkhusus papa. Namun, semenjak kuliah dan sudah bisa mandiri, jauh dari orangtua juga. Aku bisa lihat hal tersebutb dari sisi lain. Sekarang lebibh merasa tidak mau bergantung sama orang lain saja. Aku percaya kalau pada akhirnya kita tidak bisa mengandalkan orang lain. Jadi lebih mandiri saja sih. Tapi, kalau lagi di posisi yang kepepet banget dan mentok secara emosional, nah itu gawat,” ujar perempuan terdampak fatherless yang tidak ingin disebutkan namanya.


Potret salah seorang narasumber yang identitasnya tidak ingin disebutkan.
Potret salah seorang narasumber yang identitasnya tidak ingin disebutkan.

“Jujur, kalau membicarakan tentang dampaknya ke pribadi saya sih, cukup ekstrim ya. Jadi, latar belakangnya itu, dulu ayah dan ibu berpisah karena ayah selingkuh. Dari hal tersebut, ketika saya tumbuh remaja dan mengenal perempuan, ya, saya melakukan hal yang serupa, yaitu selingkuh. Bisa dibilang ada lima hubugan saya yang berakhir karena selingkuh. Tapi itu dulu ya, mungkin dulu lagi bandel-bandelnya dan merasa berhak-berhak saja selingkuh, toh ayah pun begitu. Lagipula, siapa lagi yang bisa dicontoh? Kaka saya perempuan, ibu saya tentu perempuan, dan laki-laki pertama dalam hidup saya ya ayah saya sendiri. Untungnya sih sekarang saya sudah terbuka ya pikirannya dan seharusnya tidak terulang lagi, justru berusaha menjadi pria yang baik dalam hubungan asmara,” ujar seorang pemuda fatherless yang namanya tidak ingin disebutkan.


Dampak-dampak emosional dan mental yang diakibatkan oleh fatherless pada dasarnya terkesan remeh di awal, tetapi jika hal ini berlaku jangka panjang maka besar kemungkinannya dapat mengulang kembali peristiwa fatherless kepada generasi-generasi berikutnya. Anak laki-laki yang tidak mendapatkan contoh sosok pria yang baik dari ayahnya, dan anak perempuan yang tidak merasakan kasih sayang yang baik dari sosok ayahnya mampu menumbuhkan permasalahan-permasalahan pada hubungan asmara dan rumah tangga anak-anak fatherless di masa mendatang. 


Nilam, seorang psikolog dan dosen psikologi di salah satu universitas di Indonesia mengatakan, ketiadaan figur ayah yang hadir secara emosional (fatherless) dapat berdampak besar pada perkembangan psikologis anak hingga dewasa. Sejak kecil, anak mungkin sudah merasakan perasaan tak berdaya akibat kurangnya afeksi, meskipun ayah tampak sempurna di mata publik. 


Kehadiran ayah yang penuh kasih sayang sangat penting untuk membentuk konsep diri yang positif, rasa percaya diri, dan kemampuan memecahkan masalah. Anak membutuhkan cinta kasih yang sesuai dengan kebutuhannya, seperti sentuhan fisik, pujian, atau waktu berkualitas, sesuai dengan konsep five love languages. Afeksi emosional ini berfungsi sebagai pendukung utama dalam proses pembelajaran dan membangun kesejahteraan psikologis secara menyeluruh.


Menurutnya, dampak fatherless bisa beragam, salah satunya adalah anak (laki-laki) menjadi cermin dari hal-hal yang dilakukan ayahnya. Pada contoh kasus yang terjadi terhadap salah narasumber laki-laki, ayahnya berselingkuh dan hal tersebut membentuk ia menjadi pribadi yang juga suka berselingkuh baik meskipun pada akhirnya narasumber berkemauan untuk berubah menajdi lebih baik. Tidak hanya itu, hal ini dapat menimbulkan dampak berkepanjangan. 


Tidak hanya itu, ada juga kasus yang dialami narasumber perempuan yang ayahnya masih hadir di rumah secara fisik tetapi tidak memberikan kasih sayang dan perhatian yang dibutuhkan. Hal itu membentuknya menjadi pribadi yang tidak mau menggantungkan diri terhadap orang lain, khususnya laki-laki. Menurut Nilam, dampak-dampak psikologi tersebut bersumber pada rasa “kecil diri” dalam diri anak-anak yang terdampak fatherless.


Tentu dua contoh kasus tersebut hanya sebagian kecil dari banyaknya kasus yang ada di masyarakat. Namun, hal yang perlu diperhatikan adalah betapa buruknya dampak fatherless terhadap kesehatan mental anak dan kehidupan sosialnya. Tentu kita semua berharap untuk mengakhiri lingkar jerat dari siklus fatherless yang tidak hanya berdampak kepada si korban tetapi juga lingkungan sosial dan pekerjaan di sekitar mereka. Oleh sebab itu, Nilam selaku psikolog dan dosen psikologi memberikan pandangan terkait tips menghadapi fatherless.


Bagi seseorang yang mengalami kondisi fatherless, penting untuk memahami bahwa meskipun peran ayah sebagai sumber energi positif tidak hadir, ada energi pengganti yang dapat ditemukan, yaitu cinta kasih. Dalam masa remaja, ketika kemandirian mulai berkembang, fokuslah pada mengasah otonomi dan kemampuan memecahkan masalah sebagai bagian dari kesejahteraan psikologis. 


Terimalah keadaan dengan menyadari bahwa setiap situasi memiliki sebabnya, lalu latihlah kemampuan seperti problem solving, interaksi sosial, dan pengelolaan pikiran serta emosi negatif. Emosi negatif dapat diatasi dengan cara aman, seperti katarsis melalui menulis atau pelepasan emosi pada media tertentu. Setelah itu, gantilah dengan kegiatan positif yang menyenangkan dan bermakna. Dengan pola pikir ini, seseorang dapat membangun kemandirian, menemukan makna, dan memilih pergaulan yang sehat untuk mendukung perkembangan dirinya.


Pada akhirnya, fatherless menjadi hal yang tentunya harus diperhatikan. Layaknya sebuah tumor, fatherless muncul dari sesuatu hal yang kecil dan mungkin dianggap sepele, tetapi kemudian mampu menjadi semakin ganas seiring berjalannya waktu. Peran orang tua (tunggal) sangat berpengaruh pada perkembangan mental anak dalam menghadapi fatherless. Oleh sebab itu, penting bagi masyarakat untuk mulai memperhatikan fenomena ini dan mengatasinya dengan cara yang bijaksana. Bahkan jika diperlukan, sangat wajar untuk berkonsultasi dengan profesional.



Artikel ini merupakan tugas Ujian Akhir Semester untuk mata kuliah Data Driven Storytelling. Mata kuliah ini diampu oleh Utami Diah Kusumawati, M.A. dan Ingki Rinaldy, M.A. serta asisten lab Chatarina Ivanka, Ignatia Sarasvati, dan Tiara Febriani.


LINK ARTIKEL INTERAKTIF: https://fatherlessproject.carrd.co/


ANGGOTA KELOMPOK:

Nicholas Putra Pratama (00000070547)

Indah Yoti Sari (00000066871)

Clara Juliatry Corneliani Mbulu (00000077085)

Ryan Rijady (00000056650)


 
 
 

Comments


Data-driven Storytelling Universitas Multimedia Nusantara

bottom of page