Penjualan Mobil Listrik di Indonesia Meningkat Drastis di Tahun 2024
- Data-driven Storytelling UMN
- Dec 17, 2024
- 5 min read
Mobil listrik produksi China menempati posisi penjualan yang paling laris, menyalip produksi Korea yang lebih dahulu terjun di pasar Indonesia.

Pasar kendaraan roda empat berbasis listrik baterai (EV) atau kendaraan listrik berbasis baterai (BEV) masih sangat menjanjikan. Hal ini ditunjukkan oleh data yang diolah oleh Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo). Dalam beberapa tahun terakhir, mobil listrik telah menjadi sorotan dalam upaya global untuk mengurangi emisi karbon dari penggunaan kendaraan konvensional.
Indonesia merupakan salah satu negara dengan jumlah populasi terbesar di dunia, mulai mengambil langkah besar untuk mengadopsi teknologi kendaraan listrik. Pemerintah, pelaku industri, dan masyarakat kini bersinergi untuk mendorong penggunaan mobil listrik sebagai bagian dari transformasi menuju transportasi yang ramah lingkungan.

Pasar Otomotif di Indonesia sedang menyaksikan fenomena menarik dengan hadirnya berbagai merk mobil listrik asal China. Dalam beberapa tahun terakhir produsen mobil konvensional seperti seperti Toyota, Lexus, dan Hyundai mulai berinovasi untuk menjual mobil listrik di Indonesia.
Sedangkan nama - nama baru dari China seperti BYD, hingga Wuling mulai memasarkan banyak jenis mobil listrik baru yang mulai beredar di pasaran. Merk dari China menawarkan alternatif yang lebih baik dari segi harga maupun teknologi.
Pertumbuhan Pesat Penjualan Mobil Listrik Impor dari 2020 hingga 2024
Pasar mobil listrik impor di Indonesia menunjukkan pertumbuhan yang luar biasa dalam lima tahun terakhir. Data dari GAIKINDO mencatat peningkatan signifikan pada jumlah penjualan mobil listrik impor, dengan lonjakan paling tajam terjadi pada tahun 2024.
Penjualan dari 2020 hingga 2024:
Tahun 2020
Awal adopsi mobil listrik di Indonesia relatif lambat, dengan hanya 154 unit mobil listrik impor yang terjual. Hal ini disebabkan oleh terbatasnya infrastruktur pengisian daya dan rendahnya kesadaran konsumen.
Tahun 2021
Penjualan meningkat menjadi 629 unit, menandakan awal peningkatan kesadaran akan kendaraan listrik. Peningkatan ini juga didorong oleh insentif pemerintah untuk mendorong adopsi mobil ramah lingkungan.
Tahun 2022
Penjualan sedikit menurun ke angka 495 unit. Penurunan ini kemungkinan dipengaruhi oleh tantangan rantai pasok global dan keterbatasan model kendaraan listrik impor yang tersedia di pasar lokal.
Tahun 2023
Penjualan melonjak drastis hingga mencapai 2.519 unit, didukung oleh peluncuran model baru, kampanye pemasaran yang masif, serta perbaikan infrastruktur, seperti stasiun pengisian daya yang lebih luas.
Tahun 2024
Peningkatan luar biasa terlihat pada tahun ini, dengan penjualan mobil listrik impor mencapai 13.632 unit, hampir enam kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya. Ini menandakan transisi yang signifikan ke arah kendaraan listrik, didukung oleh kebijakan yang lebih proaktif dari pemerintah dan minat konsumen yang semakin besar.
Faktor Pendorong Penggunaan mobil listrik
Menurut salah satu jurnalis otomotif, Luthfi Aziz. Perkembangan mobil listrik di Indonesia masa kini semakin pesat karena banyaknya brand dari Cina yang masuk ke dalam negeri.
“Tren menggunakan mobil listrik sudah mulai mendunia dan merata. Perkembangan penggunaan mobil listrik juga didukung dengan insentif yang diberikan oleh pemerintah. Selain brand yang sangat beragam, harga yang relatif murah menjadi salah satu daya tarik untuk masyarakat beralih ke kendaraan yang berbasis tenaga listrik,” ucap Aziz saat ditemui di kediamannya pada Minggu (17/11/2024).

Selain karena masuk nya brand luar ke Indonesia, kebijakan pemerintah yang memberikan insentif pajak, subsidi, dan peningkatan infrastruktur EV sangat membantu pertumbuhan pasar.
“Salah satunya adalah mobil listrik dibebaskan dari aturan ganjil genap yang sekarang sudah ditetapkan di banyak kota untuk mengurangi kemacetan. Selain itu, pengguna mobil listrik relatif diberikan harga pajak yang lebih murah ketimbang mobil konvensional. Hal ini menjadi daya tarik tersendiri bagi pengguna mobil yang ada di Indonesia,” ujar Aziz.
Mobil listrik juga dinilai sangat menguntukan pengguna nya, selain pajak kendaraan yang ternilai lebih rendah dari mobil konvensional, penggunaan bahan bakar juga menjadi faktor lain nya. Menggunakan mobil listrik sejak Agustus 2024, Darren Sebastian yakni salah satu pengguna mobil listrik di Tangerang Selatan, sudah mendapatkan banyak sekali hal positif dari penggunaan mobil listrik itu sendiri.
“Keuntungannya banyak, salah satunya bensin jauh banget lebih irit. Selain itu pajak rendah dan gak kena ganjil genap,” ujar Darren.
Berbanding sedikit terbalik dari Darren, Jonathan yang adalah pengguna mobil listrik merk BYD, lebih menyukai mobil listrik karena performa dari kendaraan itu sendiri. Bagi Jonathan, mobil listrik yang ia gunakan memiliki torsi yang jauh lebih tinggi ketimbang mobil konvensional. Jonathan lebih menyukai mobil listrik dari sisi performa mobil itu sendiri.
“Gua paling demen sama torsi bawah nya mobil listrik sih, kenceng banget! Dari sisi tenaga oke banget gua suka, dan pasti nya karna irit juga. Selain itu harus diingat juga perawatan mobil listrik terbilang lebih murah jauh,” kata Jonathan ketika wawancarai di kediaman nya.
Dengan pertumbuhan seperti ini, penjualan mobil listrik impor diperkirakan akan terus meningkat dalam beberapa tahun mendatang. Persaingan antar pabrikan kemungkinan akan semakin ketat, dengan lebih banyak model yang dirilis untuk memenuhi permintaan pasar.
Data menunjukkan bahwa transisi ke kendaraan listrik di Indonesia sedang berada pada jalur yang sangat positif. Tahun 2024 menjadi tonggak penting dalam sejarah adopsi mobil listrik, dan momentum ini diharapkan dapat terus berlanjut dengan dukungan dari berbagai pihak.

Kendaraan listrik terlaris tahun 2024:
Atto 3 Superior Extended Range mendominasi pasar
Penjualan mobil listrik meningkat di Indonesia, dan kesadaran akan mobil ramah lingkungan semakin meningkat. Berdasarkan grafik data penjualan tahun 2024, BYD Atto 3 Superior Extended Range menjadi model kendaraan listrik terlaris dengan terjual 3.389 unit. Jumlah tersebut jauh melebihi penjualan model lainnya sehingga menjadi pilihan terpopuler konsumen tahun ini.

Dengan 3.389 unit terjual, Atto 3 Superior Extended Range jelas merupakan pemimpin pasar. Kendaraan ini menawarkan jarak tempuh lebih jauh dan performa andal sehingga menjadi pilihan utama konsumen yang mengutamakan efisiensi dan kenyamanan. Keunggulan teknis dan harga yang kompetitif juga berkontribusi terhadap popularitasnya.
Selain Atto 3, beberapa model mobil listrik lainnya juga mencatatkan penjualan meski dalam jumlah yang jauh lebih kecil.
BZ4X berada di peringkat kedua dengan penjualan 516 unit.Model ini dikenal dengan desain futuristik dan fitur keamanan canggih, tetapi penjualannya masih terpaut jauh dari Atto 3.
CONA EV mencatatkan penjualan 363 unit, menunjukkan minat konsumen pada model ini meskipun skalanya lebih kecil dibandingkan Atto 3.
UX 300e hanya berhasil menjual 156 unit, meskipun memiliki keunggulan dari segi brand dan teknologi premium.
Kona EV berada di posisi terakhir dengan hanya 48 unit terjual. Hal ini menunjukkan bahwa model ini kurang kompetitif dibandingkan rivalnya.
Data penjualan ini menunjukkan bahwa pasar kendaraan listrik di Indonesia sedang berkembang dan Atto 3 Superior Extended Range jelas merupakan pemimpin pasar. Meski demikian, pabrikan lain seperti BZ4X dan CONA EV masih memiliki peluang untuk meningkatkan daya saing melalui inovasi produk dan strategi pemasaran.
Persaingan di segmen ini diperkirakan akan semakin ketat di masa depan karena meningkatnya dukungan terhadap kendaraan listrik. Produsen harus fokus pada peningkatan teknologi, efisiensi, dan keterjangkauan untuk memenangkan hati dan pikiran konsumen.
Penulis Artikel : Bonifasius
Reporter : Kevin Valian
Visualisasi Data : Ryan Desnanda
Analisis Data : Ranata dan Ryan Desnanda
Artikel ini merupakan tugas Ujian Akhir Semester untuk mata kuliah Data Driven Storytelling. Mata kuliah ini diampu oleh Utami Diah Kusumawati, M.A. dan Ingki Rinaldy, M.A. serta asisten lab Chatarina Ivanka, Ignatia Sarasvati, dan Tiara Febriani.




Comments