top of page
Search

Aplikasi Pesan Makanan Daring Mendorong Tumbuhnya UMKM Baru Di Indonesia

Updated: Dec 18, 2024

Oleh: Kelompok 4 Kelas C Data-driven Storytelling (Gavendra A. W., Priscilla Y. V., ABG Putra Agung S. N., Euodia K. A.)


UMKM Soto Mie Khas Bogor dan Es Sinar Garut di Pasar Lama Tangerang pada Rabu (20/11/2024) siang. (Foto: UMN/Euodia Kyla Ardelia)
UMKM Soto Mie Khas Bogor dan Es Sinar Garut di Pasar Lama Tangerang pada Rabu (20/11/2024) siang. (Foto: UMN/Euodia Kyla Ardelia)

Perkembangan layanan pesan antar makanan daring atau Online Food Delivery (OFD) tidak hanya memudahkan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan kuliner, tetapi juga membuka peluang baru bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Dengan akses pasar yang lebih luas dan kemudahan promosi melalui platform digital, banyak UMKM baru bermunculan. Hal tersebut menjadi salah satu pendorong pertumbuhan ekonomi di Indonesia. 


“Menariknya, OFD ini justru membantu pertumbuhan UMKM gitu. Jadi, kalau dulu UMKM itu cuman bisa buka di satu tempat dan cakupan konsumennya hanya yang ada di sekitar situ, sekarang setiap UMKM yang ada di platform ini memiliki akses kepada lebih banyak konsumen,” jelas Stella Kusumawardhani (33), ekonom pada Rabu (20/11/2024).


Saat ini, layanan OFD berhasil mengubah perilaku konsumen, terutama sejak adanya pandemi Covid-19 lalu. Bahkan, hal tersebut menjadi sebuah kebiasaan baru yang sampai saat ini pertumbuhan performance sektor OFD masih bertahan.


“Masyarakat sudah terbiasa menggunakan platform-nya, masyarakat sudah familiar dengan platform dan mekanisme dari memesan makanan tersebut, mereka semakin paham dengan semacam algoritmanya, dan membantu mereka dalam mengambil keputusan, sudah terbiasa dengan itu,” lanjut Stella.


Tren Penggunaan Layanan Aplikasi OFD


Kebiasaan masyarakat dalam memesan makanan secara daring dapat diakses melalui beberapa aplikasi. Beberapa yang paling populer di Indonesia, antara lain GoFood, GrabFood, dan ShopeeFood. Selain itu, tak sedikit juga gerai makanan yang memiliki aplikasinya sendiri. Berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh kelompok, aplikasi pesan antar makanan daring yang paling banyak digunakan adalah GoFood.

Grafik penggunaan aplikasi layanan pesan antar makanan daring oleh responden berdasarkan hasil survei melalui Google Form pada Minggu (10/11/2024). (Grafik: UMN/ABG Putra Agung S. N.)
Grafik penggunaan aplikasi layanan pesan antar makanan daring oleh responden berdasarkan hasil survei melalui Google Form pada Minggu (10/11/2024). (Grafik: UMN/ABG Putra Agung S. N.)

Berdasarkan data tersebut, pengguna GoFood sebesar 68%, pengguna GrabFood sebesar 37%, ShopeeFood sebesar 30%, dan aplikasi lainnya sebesar 8%.

Aplikasi Shopee, Grab, dan Gojek. (Foto: Katadata/Desy Setyowati)
Aplikasi Shopee, Grab, dan Gojek. (Foto: Katadata/Desy Setyowati)

Dilansir dari situs resmi Momentum Works, Indonesia sebagai negara yang paling banyak melakukan layanan pesan antar makanan daring di Asia Tenggara.

Grafik nilai GMV aplikasi layanan pesan antar makanan daring negara-negara di Asia Tenggara pada 2021. (Grafik: UMN/ABG Putra Agung S. N.)
Grafik nilai GMV aplikasi layanan pesan antar makanan daring negara-negara di Asia Tenggara pada 2021. (Grafik: UMN/ABG Putra Agung S. N.)

Berdasarkan data tersebut, Indonesia berada di peringkat pertama di antara negara-negara Asia Tenggara lainnya dengan nilai Gross Merchandise Value (GMV) aplikasi layanan pesan antar makanan daring pada 2021 sebesar 4,6 miliar dolar. Gross Merchandise Value adalah nilai total barang dagangan yang terjual dalam periode waktu tertentu.

Grafik nilai GMV aplikasi layanan pesan antar makanan daring negara-negara di Asia Tenggara pada 2022. (Grafik: UMN/ABG Putra Agung S. N.)
Grafik nilai GMV aplikasi layanan pesan antar makanan daring negara-negara di Asia Tenggara pada 2022. (Grafik: UMN/ABG Putra Agung S. N.)
Grafik nilai GMV aplikasi layanan pesan antar makanan daring negara-negara di Asia Tenggara pada 2023. (Grafik: UMN/ABG Putra Agung S. N.)
Grafik nilai GMV aplikasi layanan pesan antar makanan daring negara-negara di Asia Tenggara pada 2023. (Grafik: UMN/ABG Putra Agung S. N.)

Sementara itu, nilai GMV aplikasi layanan pesan antar makanan daring Indonesia pada 2022 dan 2023 menurun menjadi 4,5 miliar dolar. Meskipun demikian, Indonesia masih berada di peringkat pertama dengan nilai GMV aplikasi layanan pesan antar makanan daring tertinggi. Hal tersebut menunjukkan pasar pesan antar makanan daring di Indonesia tergolong besar, meskipun masih memiliki tantangan dalam pertumbuhannya.


Selain itu, kelompok melakukan survei terkait persentase penggunaan layanan pesan antar makanan daring. Mayoritas orang pernah dan aktif menggunakan layanan pesan antar makanan daring.

Grafik persentase penggunaan layanan pesan antar makanan daring oleh responden berdasarkan hasil survei melalui Google Form pada Minggu (10/11/2024). (Grafik: UMN/ABG Putra Agung S. N.)
Grafik persentase penggunaan layanan pesan antar makanan daring oleh responden berdasarkan hasil survei melalui Google Form pada Minggu (10/11/2024). (Grafik: UMN/ABG Putra Agung S. N.)

Data tersebut menunjukkan persentase orang yang pernah dan aktif menggunakan layanan sebesar 55%, pernah menggunakan, tetapi tidak aktif sebesar 43%, dan tidak pernah menggunakan sebesar 2%. 


Saat ini, keberadaan layanan pesan antar makanan daring memudahkan seseorang dalam menikmati makanan. Mereka tidak perlu bersusah payah lagi keluar rumah untuk membeli makanan. Hanya dengan sekali klik,  tidak lama kemudian, makanan pun tiba. Akibatnya, hal tersebut membuka peluang baru bagi seseorang untuk membeli makanan dari layanan pesan antar makanan daring. Hasil survei menunjukkan mayoritas orang mengeluarkan Rp100.000,00 - Rp250.000,00 per minggu untuk membeli makanan dari layanan pesan antar makanan daring.

Grafik persentase pengeluaran pembelian makanan dari aplikasi layanan pesan antar makanan daring oleh responden berdasarkan hasil survei melalui Google Form pada Minggu (10/11/2024). (Grafik: UMN/ABG Putra Agung S. N.)
Grafik persentase pengeluaran pembelian makanan dari aplikasi layanan pesan antar makanan daring oleh responden berdasarkan hasil survei melalui Google Form pada Minggu (10/11/2024). (Grafik: UMN/ABG Putra Agung S. N.)

Data tersebut menunjukkan orang yang mengeluarkan Rp100.000,00 - Rp250.000,00 per minggu untuk membeli makanan dari layanan pesan antar makanan daring sebesar 47%, < Rp100.000,00 sebesar 44%, Rp250.000,00 - Rp500.000,00 sebesar 6%, dan > Rp500.000,00 sebesar 3%.


Berdasarkan seluruh data yang telah dicantumkan, dapat disimpulkan bahwa kehidupan seseorang di Indonesia melekat pada layanan pesan antar makanan daring. Mayoritas dari mereka pernah dan aktif menggunakan layanan pesan antar makanan daring dengan aplikasi GoFood dan total biaya yang dikeluarkan sebesar Rp100.000,00 - Rp 250.000,00 per minggu.


Tantangan Pendapatan Driver OFD


Walaupun responden mayoritas aktif menggunakan layanan pesan antar makanan daring dan mengeluarkan sejumlah biaya, tetapi ternyata penghasilan yang didapatkan oleh driver GoFood bergantung pada beberapa hal.


“Kalau GoFood itu tergantung pendapatannya, kalau bagus mah dapat lima sampai enam orderan, kalau sampai malam sepuluh mah dapat, apalagi kalau hujan,” ujar Rahmat (39), driver GoFood pada Minggu (17/11/2024).


Namun, pendapatan tersebut tidak selalu berjalan mulus. Rahmat menjelaskan orderan GoFood yang ia terima juga bergantung dengan cuaca dan adanya orderan gabungan.


“Yang rugi kalau gabungan gitu, kalau dua orderan, setiap ongkosnya Rp10.000,00, kalau gabungan dua orderan, jadi cuman Rp12.000,00 atau Rp13.000,00. Kira-kira sehari dapatnya Rp70.000,00 - Rp80.000,00-an lah,” lanjutnya.


Pengembangan UMKM di Indonesia


Seiring dengan perkembangan teknologi, banyak perubahan yang memengaruhi tingkat penjualan makanan pelaku UMKM. Ditambah lagi, sejak pandemi Covid-19 lalu yang membuat perekonomian di Indonesia menurun. Dilansir dari Badan Pusat Statistik, pada 2020, pertumbuhan ekonomi di Indonesia mengalami penurunan sebesar 2,07 persen. Sementara itu, sektor makanan minuman yang tercatat mengalami minus sebesar 10,22 persen.


Perkembangan teknologi yang semakin maju juga mengubah cara penjualan bagi beberapa pelaku UMKM. Ahmad Arifin (27), pedagang sop buah di Pasar Lama Tangerang, menjelaskan awal mula dirinya menggunakan aplikasi layanan pesan antar makanan daring.

Ahmad Arifin (27), penjual sop buah di Pasar Lama Tangerang yang terdampak positif dari layanan OFD. (Foto: UMN/Euodia Kyla Ardelia)
Ahmad Arifin (27), penjual sop buah di Pasar Lama Tangerang yang terdampak positif dari layanan OFD. (Foto: UMN/Euodia Kyla Ardelia)

“Pas Covid lagi ramai tuh, kan orang pada nawarin pakai aplikasi Grab, Shopee, sama Gojek. Akhirnya, saya tertarik pakai aplikasi itu, Grab sama Shopee,” ujar Arifin pada Rabu (20/11/2024).


Menurut Arifin, dengan adanya aplikasi tersebut, sangat membantu perekonomian para pelaku UMKM, seperti dirinya. Kini, pendapatan yang diperoleh tidak hanya dari pembeli langsung di tempat, tetapi juga dari aplikasi.


“Tingkat penjualannya lebih ramai di aplikasi, hampir 70%. Aplikasi buat pedagang UMKM tuh membantu banget buat kami, apalagi kalau misalnya lagi merintis dari nol sampai sukses itu sangat membantu,” lanjutnya.


Dampak Lain dari Layanan Aplikasi OFD


Sayangnya, keberadaan aplikasi layanan pesan antar makanan daring tersebut tidak sepenuhnya berdampak positif bagi seluruh pedagang kaki lima. Beng Hua (67), pedagang mie ayam di Pasar Lama Tangerang, menjelaskan aplikasi layanan pesan antar makanan daring justru menjadi ancaman bagi pendapatannya.

Beng Hua (67), penjual mie ayam di Pasar Lama Tangerang yang terdampak negatif dari layanan OFD. (Foto: UMN/Euodia Kyla Ardelia)
Beng Hua (67), penjual mie ayam di Pasar Lama Tangerang yang terdampak negatif dari layanan OFD. (Foto: UMN/Euodia Kyla Ardelia)

“Dulu, sebelum Covid, orang masih banyak yang datang beli mie ayam, tapi mulai dari Covid sampai sekarang dagangan sepi, kalah sama yang pakai aplikasi. Pendapatan jadi nurun drastis bahkan bisa sampai 80%,” ujar Beng Hua pada Rabu (20/11/2024).


Bahkan, setelah pandemi berakhir, pendapatan Beng Hua sudah tidak dapat sebesar dulu sebelum pandemi. Kemudian, ia menjelaskan alasan tidak menggunakan aplikasi layanan pesan antar makanan daring. 


“Waduh, saya kurang paham kalau soal aplikasi begituan. Jadi, saya cuman bisa mengandalkan orang datang langsung ke sini beli mie ayam,” lanjutnya.


Kondisi yang dialami oleh Beng Hua termasuk ke dalam adaptasi teknologi bagi sebagian pedagang kaki lima. Sebenarnya, aplikasi Gojek, Grab, dan Shopee telah menyediakan pelatihan untuk membantu UMKM memahami cara memanfaatkan fitur-fitur promosi dan pemasaran secara aktif. 


“Adaptabilitas sangat berpengaruh terhadap performa, siapa saja bisa bergabung ke platform ini, cuman memang pasti butuh waktu untuk menyesuaikan diri,” jelas Stella.


Dilansir dari Gojek.com, berikut adalah cara mendaftar layanan GoFood.

  1. Pendaftaran Mitra Usaha GoFood dapat dilakukan melalui aplikasi GoBiz (hanya bisa diunduh di Google Play Store Android)

  2. Setelah mengunduh aplikasi GoBiz, pilih Daftar GoBiz. Pilih pendaftaran yang sesuai dengan jenis usaha Anda. Berikut kategori pendaftaran GoFood:

  • Usaha milik pribadi

    Untuk badan usaha perorangan yang belum pernah memiliki akun GoFood.

  • Usaha milik perusahaan

    Untuk badan perusahaan yang belum pernah memiliki akun GoFood.

  • Tambah outlet baru

    Untuk badan usaha perorangan/perusahaan yang sudah memiliki akun GoFood dan hanya ingin mendaftarkan outlet/gerai baru.

  1. Isi data pemilik atau pengguna sesuai dengan data pemilik usaha (individual) atau direktur perusahaan/wakil yang ditunjuk perusahaan

  2. Lengkapi data usaha sesuai dengan jenis usaha yang Anda pilih


Keterangan


Anggota Kelompok:

Gavendra Anantawikrama Wijaya - 00000076459 (Data Analyst)

ABG Putra Agung S. N. - 00000094914 (Visualisasi Data)

Priscilla Yudith Victoria - 00000090408 (Penulis)

Euodia Kyla Ardelia - 00000097379 (Dokumentasi)


Metodologi penelitian yang dilakukan dalam project ini adalah kuantitatif dan kualitatif. Metode kuantitatif dilakukan dengan membuat survei berupa Google Form untuk mengetahui perubahan perilaku konsumen dalam penggunaan layanan pesan antar makanan daring memengaruhi daya saing pedagang kaki lima yang tidak menggunakan aplikasi. Survei tersebut dibagikan sejak 9 November 2024 - 10 November 2024 dengan target seratus responden dari profesi mana pun dan tidak terbatas oleh usia. Selain itu, terdapat data dari Momentum Works sebagai pendukung topik dalam artikel tersebut. Seluruh hasil data yang diperoleh divisualisasikan oleh kelompok menggunakan Flourish. Sementara itu, metode kualitatif dilakukan dengan melakukan wawancara kepada beberapa narasumber, yaitu ahli ekonom, pedagang kaki lima, dan driver aplikasi layanan pesan antar makanan daring. Kami menghubungi dan melakukan wawancara langsung dengan mereka. Kemudian, kami menyortir kembali statement yang paling bagus untuk mendukung artikel tersebut.


Referensi


Riset Data


Survei Google Form


Wawancara Narasumber


Gambar


Cara Mendaftar GoFood


Artikel ini merupakan tugas Ujian Akhir Semester untuk mata kuliah Data Driven Storytelling. Mata kuliah ini diampu oleh Utami Diah Kusumawati, M.A. dan Ingki Rinaldy, M.A. serta asisten lab Chatarina Ivanka, Ignatia Sarasvati, dan Tiara Febriani.

 
 
 

Comments


Data-driven Storytelling Universitas Multimedia Nusantara

bottom of page