top of page
Search

Berbagai Upaya Untuk Menyelesaikan Masalah Kekerasan dalam Sepak Bola Indonesia

Updated: Dec 16, 2024


Berbagai Upaya Untuk Menyelesaikan Masalah Kekerasan dalam Sepak Bola Indonesia


Insiden kekerasan dalam sepak bola Indonesia terus menjadi ancaman serius, baik di dalam maupun di luar lapangan. Kekerasan yang terjadi, baik terhadap pemain, ofisial, suporter, maupun pihak lain yang terlibat, menciptakan atmosfer yang merusak dan mengancam kelangsungan sepak bola di tanah air. 


Pengamat: Semua bidang harus bergerak, bukan hanya satu dua bidang saja!

Risha Wijaya General Manager PT Kreatif Karya Bangsa menegaskan bahwa masalah ini tidak dapat diselesaikan hanya dengan menargetkan satu atau dua bidang saja, tetapi memerlukan pendekatan yang mendalam dan terintegrasi. Semua aspek yang terlibat dalam ekosistem sepak bola, mulai dari pengelolaan klub, penyelenggaraan pertandingan, kepatuhan terhadap regulasi, hingga pola pendidikan bagi suporter, harus dibenahi secara menyeluruh. Pelatihan dan edukasi untuk suporter, peningkatan sistem pengamanan, serta penegakan hukum yang tegas terhadap pelaku kekerasan, menjadi bagian penting dalam menciptakan lingkungan yang aman dan sehat. Selain itu, peran media dan penyiaran yang bertanggung jawab juga sangat penting dalam membangun citra positif sepak bola Indonesia. Dengan upaya bersama di semua bidang ini, diharapkan kekerasan dalam sepak bola dapat diminimalisir dan Indonesia bisa kembali menikmati sepak bola yang penuh sportifitas dan fair play.


“ Dalam suatu pertandingan sepakbola, semua harus bertanggung jawab dari Local Organizing Comitee, LIB (Liga Indonesia Besar), PSSI, dan klub. PSSI harus bekerja sama dengan pemerintah untuk membuat undang undang dan sanksi bagi suporter yang telah melanggar undang - undang. Selain itu, pemerintah daerah juga harus memperbaiki infrastruktur di stadion - stadion sepakbola seperti, menambah cctv di dalam stadion agar keamanan security semakin ketat. Jadi, tidak bisa hanya satu atau dua bidang saja yang bergerak. Semua bidang harus ditingkatkan secara bersamaan,“ tegas Risha. 


Survei: Mayoritas Pernah Melihat Kekerasan dalam Sepak Bola Secara Langsung Maupun Berita




Survei terbaru menunjukkan bahwa mayoritas responden mengaku pernah menyaksikan kekerasan dalam sepak bola, baik secara langsung maupun melalui pemberitaan media. Fenomena ini mengindikasikan bahwa kekerasan dalam dunia sepak bola bukan hanya masalah yang terjadi di lapangan, tetapi juga sering kali mencuat dalam pemberitaan, memperburuk citra olahraga tersebut di mata publik. Baik suporter, pemain, maupun ofisial sering kali menjadi saksi atau bahkan korban dari kekerasan yang melibatkan fisik maupun verbal, yang semakin memperlihatkan betapa seriusnya isu ini di berbagai level sepak bola.


Persebaran Kasus Kekerasan dari 2019-2024







Kasus Populer

Menilik ke sejarahnya, kasus kekerasan yang pernah terjadi di indonesia antara lain Tragedi Kanjuruhan, kekerasan terhadap wasit di laga PON Aceh 2024, kasus fans Persija Jakarta 2017, dan masih banyak lagi. Kejadian - kejadian tersebut sangat merugikan citra sepak bola Indonesia dan menunjukkan betapa besar tantangan yang dihadapi dalam menciptakan lingkungan yang aman dan kondusif di dunia olahraga. 


Saksi Mata: Tragedi Kanjuruhan Membuat Saya Sangat Trauma

Salah satu kasus kekerasan yang paling memilukan di Indonesia yaitu Tragedi Kanjuruhan 2022. Tragedi Kanjuruhan terjadi pada 1 Oktober 2022, ketika kericuhan usai pertandingan Arema FC melawan Persebaya Surabaya di Stadion Kanjuruhan, Malang, berujung pada penggunaan gas air mata oleh aparat yang menyebabkan kepanikan massal. Insiden ini menewaskan ratusan orang, termasuk anak-anak, dan menjadi salah satu bencana stadion terburuk dalam sejarah sepak bola dunia.

Trifika Wijaya merupakan salah satu saksi mata pada saat kejadian Kanjuruhan 2024. Hal tersebut memberikan efek traumatis yang cukup mendalam baginya. Melihat ratusan jenazah yang tergeletak, orang berlari - lari  hingga “tergencet”, membuat Trifika sangat shock dan tidak ingin hari tersebut terjadi kembali dalam hidupnya.


“ Tim Alhamdulillah aman semua. Dari situ kita bener-bener menunggu sampai stadionnya sepi. Semua orang keluar dulu baru kita bisa beresin alat-alat di lapangan. PR terbesarnya adalah ketika itu masih banyak korban yang berbaring. itu yang masih menempel di kepala saya sampai saat ini,” ujar Trifika.


Survei: Pemerintah Diminta Memberikan Sanksi yang Tegas



Survei terbaru mengungkapkan bahwa banyak pihak mengharapkan pemerintah untuk mengambil tindakan lebih tegas dalam menanggulangi kekerasan dalam sepak bola. Mayoritas dari mereka meminta agar sanksi yang lebih berat diberikan kepada pelaku kekerasan, baik itu suporter, pemain, maupun oknum lainnya yang terlibat dalam tindakan tersebut. Menurut mereka, dengan adanya sanksi yang jelas dan tegas, diharapkan bisa memberikan efek jera serta menciptakan atmosfer yang lebih aman dan kondusif dalam dunia sepak bola. Pemberian sanksi yang konsisten diharapkan juga dapat menurunkan tingkat kekerasan dan mengembalikan integritas olahraga ini.



Survei: Rivalitas Antar Tim Dinilai Menjadi Penyebab Utama




Survei juga mengidentifikasi bahwa rivalitas antar tim merupakan penyebab utama kekerasan dalam sepak bola Indonesia. Rivalitas ini sering berkembang menjadi konflik karena fanatisme yang berlebihan. Bentuk rivalitas ini seringkali dipicu oleh sejarah persaingan antar klub dan provokasi antar suporter tim sepak bola.


Hal tersebut mengakibatkan, insiden kekerasan kerap terjadi pada saat pertandingan berlangsung. Tidak sedikit juga insiden kekerasan yang terjadi sebelum dan setelah pertandingan berlangsung yang disebabkan oleh tensi pertandingan yang cukup panas. Insiden ini dapat menyebabkan korban jiwa, luka-luka, kerusakan fasilitas stadion, dan dapat merusak citra sepakbola Indonesia di mata dunia. 



Pemerintah Diminta untuk Memperbaiki Infrastruktur Stadium Sepakbola


Photo by: Michael Daniswara, suasana Stadion Gelora Bung Karno pada laga kualifikasi piala dunia putaran ketiga antara Indonesia vs Autralia 10 September 2024.
Photo by: Michael Daniswara, suasana Stadion Gelora Bung Karno pada laga kualifikasi piala dunia putaran ketiga antara Indonesia vs Autralia 10 September 2024.

Masalah pengelolaan stadion yang baik dan memadai tidak hanya terbatas pada fasilitas lapangan atau tempat duduk penonton, tetapi juga melibatkan aspek kemudahan akses bagi para suporter. Salah satu elemen penting yang sering terabaikan adalah jumlah pintu masuk dan keluar yang cukup untuk mengatur aliran penonton dengan lancar. Hal ini sangat penting, terutama pada pertandingan besar yang melibatkan ribuan penonton. 


“ Stadion juga harus menyediakan gerbang pintu masuk yang lebih dari dua agar keluar masuknya penonton lebih teratur. Sejauh ini, hanya GBK yang memiliki pintu masuk yang memadai. Bahkan, stadion besar seperti JIS belum menyediakan pintu masuk yang banyak,” ujar Risha.







Kerugian Besar Tim dan Pemerintah Daerah

Gita Suwondo, komentator sepak bola, mengatakan dampak yang dapat terlihat dari banyaknya kasus kekerasan dalam sepak bola salah sastunya berhentinya liga selama waktu yang tidak ditentukan. Hal tersebut mengakibatkan klub-klub liga 1 mengalami kerugian yang sangat besar dari sisi keuangan karena tidak mendapatkan profit dari tiket penonton serta  banyak pemain yang keluar dari klub karena tidak diberikan upah. Kerusakan fasilitas stadion seperti pagar yang di injak-injak oleh suporter juga merupakan dampak yang besar untuk pemerintah daerah yang harus mengeluarkan uang dari sakunya untuk memperbaiki fasilitas - fasilitas yang telah dirusak. 


“Kanjuruhan  membuat Liga berhenti sampai 2 bulan.  Itu pengaruhnya ke semua, klub juga berhak tidak menggaji pemain selama 2 bulan. Karena itu merupakan  force majeure, jadi di dalam kontrak mereka adalah kalau force majeure  klub berhak tidak digaji,” ujar Gita.



Risha Wijaya: Tingkat Pendidikan Supporter Memengaruhi Terjadinya Konflik

Risha beranggapan bahwa Tingkat pendidikan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap perilaku supporter dalam sepak bola. Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, semakin besar kemungkinannya untuk menghindari konflik dan kekerasan. Hal ini dikarenakan individu yang lebih berpendidikan cenderung memiliki wawasan yang lebih luas, kemampuan untuk berpikir kritis, dan cara pandang yang lebih rasional dalam menyikapi berbagai situasi. Sebaliknya, mereka dengan tingkat pendidikan yang lebih rendah sering kali lebih mudah terprovokasi dan terlibat dalam tindakan kekerasan, karena kurangnya pemahaman tentang konsekuensi dari tindakan mereka serta kurangnya keterampilan dalam mengelola emosi. Dengan demikian, pendidikan yang lebih baik bisa menjadi salah satu solusi untuk mengurangi kekerasan dalam dunia sepak bola.

“ Kenapa sih orang semakin tinggi tingkat pendidikannya semakin malas untuk berantem. Bener tidak? Karena dia punya knowledge. Namun, orang yang tingkat pendidikannya rendah, pasti berantem mulu. Ya itu wajar,” ujar Risha.

Program Garuda ID Salah Satu Bentuk Upaya Mitigasi Kekerasan dalam Sepak Bola


Tampilan Garuda ID
Tampilan Garuda ID

Program Garuda ID merupakan salah satu bentuk upaya mitigasi kekerasan dalam sepak bola yang dirancang untuk mengedukasi dan mengatur suporter di Indonesia. Dengan menerapkan sistem identifikasi suporter yang lebih ketat, program ini bertujuan untuk meminimalisir tindakan kekerasan dan kerusuhan yang sering terjadi di stadion. Melalui Garuda ID, setiap suporter yang hadir di pertandingan sepak bola diharapkan dapat terdata dan dikenali, sehingga memudahkan pihak keamanan dalam mengawasi perilaku mereka. Selain itu, program ini juga mengedepankan pentingnya edukasi bagi suporter untuk mendukung tim dengan cara yang lebih sportif, mengurangi potensi konflik, dan menciptakan atmosfer yang lebih aman bagi semua pihak yang terlibat dalam pertandingan.


“ Itu salah satu solusi bagus. Semua pembeli harus beli Garuda ID. Harus terdaftar Garuda ID. Jadi apa? Jadi Garuda ID itu keuntungannya mutual. Buat PSSI maupun buat supporter. Buat PSSI dipegang data. Garuda ID juga untuk mengelola supporter. Dengan Garuda ID kelihatan tuh supporter Indonesia kayak apa sih,” ujar Risha.

Dalam mengatasi masalah kekerasan dalam sepak bola Indonesia, dibutuhkan upaya yang komprehensif dan melibatkan semua pihak yang terlibat. Kekerasan yang sering terjadi, baik di lapangan maupun di luar lapangan, merusak citra sepak bola Indonesia dan mengancam kelangsungannya. 


Seperti yang disampaikan oleh Risha Wijaya, solusi yang efektif tidak bisa hanya mengandalkan satu atau dua bidang saja, melainkan harus melibatkan pengelolaan klub, penyelenggaraan pertandingan, regulasi yang jelas, serta edukasi bagi suporter. Sanksi tegas bagi pelaku kekerasan dan peningkatan sistem pengamanan di stadion juga menjadi langkah penting dalam menciptakan atmosfer yang aman. 

Selain itu, peran pemerintah dalam memperbaiki infrastruktur stadion dan memperkenalkan program seperti Garuda ID juga sangat krusial untuk mengurangi kekerasan. Dengan pendidikan yang lebih baik bagi suporter, serta penerapan sistem identifikasi yang ketat, diharapkan kekerasan dalam sepak bola Indonesia dapat diminimalisir dan menciptakan lingkungan yang lebih sportif.

  



sumber


Survey





Producer : Joseph Purnama & Gica Parashdeva

Penulis : Michael Daniswara, Gica Parashdeva

Visualisasi : Joseph Purnama

Analisis Data : Yusuf Muhamad Iqbal


Artikel ini merupakan tugas Ujian Akhir Semester untuk mata kuliah Data Driven Storytelling. Mata kuliah ini diampu oleh Utami Diah Kusumawati, M.A. dan Ingki Rinaldy, M.A. serta asisten lab Chatarina Ivanka, Ignatia Sarasvati, dan Tiara Febriani.

 
 
 

Comments


Data-driven Storytelling Universitas Multimedia Nusantara

bottom of page