top of page
Search

ChatGPT di kalangan Mahasiswa: Dari Teman Menjadi Saingan?

Updated: Dec 30, 2024


Ilustrasi Mahasiswa Menggunakan ChatGPT (Sumber: telisik.id)
Ilustrasi Mahasiswa Menggunakan ChatGPT (Sumber: telisik.id)

SERPONG, datastorytellingumn.wixsite.com - Setiap mahasiswa memiliki sudut pandangnya tersendiri dalam menggunakan ChatGPT untuk proses pembelajaran mereka. Dari yang tidak pernah menggunakan hingga yang telah bergantung, ChatGPT membawa dampak dan persepsi yang berbeda di setiap hati mahasiswa. Lalu, apakah ChatGPT akan menjadi teman bagi mahasiswa atau justru menjadi saingan?


“Dari beberapa yang saya lihat, maupun saya sendiri (alami), kami lebih sering (mencari) referensi ke perpustakaan ketimbang ChatGPT. Jawabannya (ChatGPT) belum tentu akurat, ada kemungkinan salah juga. Jadi kami tidak mau ambil risiko untuk pengerjaan 2 kali,” ujar Belinda Berliana, mahasiswi akuntansi dari Universitas Kristen Indonesia saat diwawancarai pada Minggu (10/11/2024). 


Ia mengaku masih menggunakan cara ‘lama’ untuk mencari referensi di tengah lingkungan Artificial Intelligence (AI). Salah satu bukti bahwa pada 2024, masih terdapat mahasiswa yang tidak bergantung kepada AI. 


Hal ini bertolak belakang dengan Rio, mahasiswa Manajemen dari Universitas Trisakti. Ia mengaku bergantung dengan AI karena malas untuk berpikir kritis, malas untuk mencoba dengan kemampuan diri sendiri, dan ingin lebih cepat dan menghemat waktu.


AI dan mahasiswa, dua variabel yang kian hari kian lekat berkat asistensi dan kecanggihan AI dalam membantu mahasiswa melaksanakan aktivitas akademik. Apakah hal ini menjadi hal yang positif atau justru membawa kekhawatiran bagi dunia akademik Indonesia?



Menurutmu, dari ketiga jurusan di bawah ini, jurusan mana yang paling dekat, bergantung, dan memungkinkan untuk bersaing dengan AI lebih cepat?

  • Bisnis

  • Teknik

  • Ilmu Komunikasi




ChatGPT Menjadi Web AI yang Paling Banyak Digunakan di Indonesia

AI atau kecerdasan buatan adalah teknologi yang memungkinkan komputer untuk meniru kemampuan intelektual manusia. AI dapat menganalisis data, mengidentifikasi pola, membuat prediksi, dan mengambil tindakan. 


Menurut databoks.katadata.co.id, Indonesia menempati peringkat ketiga sebagai penyumbang kunjungan ke aplikasi AI terbanyak di dunia dengan 1,4 miliar pengguna. Dari berbagai macam web AI yang tersedia pada laman internet, ChatGPT menjadi aplikasi AI yang paling banyak digunakan oleh masyarakat Indonesia.


Di dalam bidang akademik sendiri, hal ini menjadi perbincangan yang kerap kali hangat diperbincangkan. Menurut suatu pihak, ChatGPT dapat menjadi “asisten” yang membantu melakukan aktivitas akademik. Namun, di satu sisi, hal ini diperkirakan akan menjadi ancaman baru, terutama dalam menggantikan sebuah profesi. 

Lalu, bagaimana tanggapan mahasiswa dan para ahli akademik terhadap hal ini?


 

Teknik: Pengguna ChatGPT Tertinggi, tetapi Yakin Tidak Akan Tergantikan



Berdasarkan survei, mahasiswa dari Fakultas Teknik tercatat sebagai pengguna ChatGPT terbanyak, dengan angka mencapai 58,82% sering menggunakan. Angka ini mengindikasikan bahwa lebih dari separuh mahasiswa di Fakultas Teknik memanfaatkan ChatGPT untuk mendukung aktivitas perkuliahan mereka.




Sekitar 38,24% mahasiswa di Fakultas Teknik menggunakan platform ini untuk menyelesaikan penugasan harian. Penugasan ini meliputi penyelesaian laporan laboratorium, analisis data teknis, hingga pencarian literatur yang berkaitan dengan proyek mereka. Hal ini menunjukkan bahwa mahasiswa Teknik lebih memanfaatkan ChatGPT sebagai alat praktis yang mendukung kebutuhan teknis sehari-hari mereka.


Alasan tingginya penggunaan ChatGPT di kalangan mahasiswa Teknik diduga karena kompleksitas tugas yang mereka hadapi. ChatGPT dapat menjadi solusi cepat untuk menyelesaikan soal matematika, pemrograman, atau bahkan penulisan dokumentasi teknis yang biasanya memerlukan waktu lama jika dilakukan secara manual.


Walau dekat dengan ChatGPT, mahasiswa Teknik umumnya percaya diri bahwa Teknik tidak akan tergantikan oleh AI. “Karena jurusan saya tidak hanya mempelajari tentang teknik, tapi membutuhkan analisis bisnis dan pemikiran yang kreatif. AI memang menjadi tools yang sangat penting tapi kecil kemungkinan menggantikan posisi dibidang data science,kata Sean Angelo, Mahasiswa Data Science dari Universitas Bunda Mulia.


Hal ini serupa dengan apa yang disampaikan oleh Dosen Teknik Universitas Multimedia Nusantara, Niki Prastomo. Menurut Niki, dunia dan profesi teknik masih memiliki caranya sendiri untuk bertahan. 



Mahasiswa Fakultas Teknik UMN (Sumber: umn.ac.id)
Mahasiswa Fakultas Teknik UMN (Sumber: umn.ac.id)

Teknik tidak hanya mempelajari kerumitan pemrograman, tetapi menganalisis secara kreatif struktur dan polanya. Hal ini sulit untuk dilakukan oleh AI, terlebih mahasiswa yang dibimbing oleh Niki juga tidak sepenuhnya berpegang pada AI. 


Dominasi mahasiswa beliau hanya menggunakan AI sebagai pedoman dalam melakukan penugasan harian, sedangkan tidak pernah terjadi kecurangan dengan AI pada pelaksanaan ujian. Namun, hal ini juga didukung oleh teknik ujian tertulis, bukan secara daring, yang dilakukan oleh Niki. 


“Saya meminimalisirnya dengan tidak menggunakan ujian daring, jadi semua tertulis. Sehingga, ini meminimalisir adanya kecurangan. Lagi pula memang sepertinya anak Fakultas Teknik di kelas saya lumayan malu-malu untuk menggunakan ChatGPT di ujian,” ujar Niki mengenai penanggulangan kecurangan penggunaan ChatGPT dalam ujian yang ia lakukan. 







Bisnis: ChatGPT Sebagai Teman Bertukar Pikiran


Mahasiswa dari Fakultas Bisnis menempati posisi kedua dengan persentase pengguna ChatGPT sebanyak 55,88% sering menggunakan. Namun, ada perbedaan menarik dalam pola penggunaannya. Sebanyak 50% mahasiswa Fakultas Bisnis menggunakan ChatGPT untuk brainstorming atau mencari ide-ide kreatif. Sisanya menggunakan ChatGPT untuk keperluan lain, seperti membuat panduan penugasan harian.


“Karena untuk membuat bisnis, butuh banyak inspirasi dan ide, oleh karena itu terkadang ChatGPT diperlukan untuk mengkolaborasikan ide-ide menjadi terpadu,” ujar Alicia Bernadette Nugraha, Jurusan Entrepreneur, Fakultas Perhotelan dan Bisnis di Podomoro University mengenai peran ChatGPT dalam perkuliahan bisnisnya.





Fakultas Bisnis cenderung memanfaatkan kemampuan ChatGPT dalam memberikan perspektif baru atau membantu dalam menyusun strategi. Dalam proses belajar, mahasiswa sering diminta untuk membuat simulasi bisnis, proposal, atau rencana pemasaran, yang membutuhkan ide segar dan inovasi. ChatGPT menawarkan alternatif bagi mahasiswa untuk mengeksplorasi berbagai pendekatan dalam menyelesaikan tugas mereka.


Dalam data yang kami peroleh, 40,4% mahasiswa Bisnis merasa bahwa kecil kemungkinan AI mengambil alih profesi di bidang Bisnis. Namun, menurut Dosen Fakultas Bisnis Universitas Multimedia Nusantara, Rizky Yusviento Pelawi, hal ini bisa saja terjadi. 


Di dalam bidang bisnis yang memiliki pola berulang seperti penggunaan angka dalam akuntansi, AI mungkin saja mengambil alih. Namun, secara garis besar, Rizky berpendapat bahwa akan sulit bagi AI untuk mengerjakan pekerjaan di dalam Fakultas Bisnis.


Hal ini dikarenakan bisnis membutuhkan kreativitas dan cara berpikir kritis dalam menyusun perencanaannya. Menurut Rizky, AI hanya akan menggantikan bidang yang berulang dan memiliki pola. Namun, ketika bidang itu mengharuskan AI untuk berpikir secara baru, akan sulit bagi program buatan tersebut. 



Ilmu Komunikasi: Paling Bergantung dengan ChatGPT



Mahasiswa Ilmu Komunikasi menempati posisi ketiga dalam survei ini, tetapi menjadi yang paling bergantung dengan ChatGPT. 44,12% mahasiswa selalu menggunakan ChatGPT untuk keperluan perkuliahan. Penggunaan ChatGPT di kalangan mahasiswa Ilmu Komunikasi cukup beragam, tetapi tercatat pada data yang kami peroleh, paling banyak digunakan untuk pengerjaan ujian. Sebanyak 23,53% mahasiswa mengakui bahwa mereka menggunakan ChatGPT untuk membantu menyelesaikan soal dalam periode ujian.





Fakultas Ilmu Komunikasi juga menjadi fakultas yang paling skeptis terhadap masa depan profesi mereka akibat perkembangan teknologi AI. Sebanyak 88,2% mahasiswa Ilmu Komunikasi merasa bahwa AI, termasuk ChatGPT, memiliki potensi besar untuk menggantikan pekerjaan mereka di masa depan. Hal ini dapat dimengerti karena bidang komunikasi, seperti jurnalistik dan public relations, sudah mulai mengadopsi teknologi AI untuk menyusun artikel, laporan, atau bahkan strategi komunikasi.



Sebaliknya, mahasiswa Teknik dan Bisnis cenderung lebih optimis. Hanya 52,9% mahasiswa Teknik dan 47,1% mahasiswa Bisnis yang merasa profesi mereka sangat berpotensi tergantikan oleh ChatGPT. Hal ini kemungkinan besar disebabkan oleh keyakinan mereka bahwa pekerjaan di bidang Teknik dan Bisnis tetap membutuhkan keterampilan manusia yang tidak bisa sepenuhnya digantikan oleh AI, seperti kemampuan teknis mendalam atau kemampuan interpersonal dan kreativitas.


Niknik Mediyawati Kuntarto, Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Multimedia Nusantara, sekaligus pakar forensik linguistik Bahasa Indonesia mengatakan Ilmu Komunikasi tetap tidak akan tergantikan oleh AI.


“Perlu ditekankan kembali bahwa kecanggihan teknologi, terutama kecerdasan buatan, bukan untuk menggantikan para pekerja di industri komunikasi atau khususnya media, melainkan sebagai pendamping dalam peningkatan kualitas,” ujarnya. 


Niknik juga mengakui bahwa seiring dengan berkembangnya ChatGPT, kerap kali mahasiswa menggunakan kecerdasan ini untuk melakukan tugas atau ujian di Fakultas Ilmu Komunikasi.


“Secara umum, tugas yang dibuat oleh ChatGPT hanya mengulas bagian permukaan sebuah persoalan. Masih mengawang-awang, kurang membumi. Tidak ada contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari,” kata beliau mengenai ciri-ciri penggunaan ChatGPT dalam penugasan mahasiswa. 



Mahasiswa dan ChatGPT: Jadi Rekan atau Saingan?


Ilustrasi AI Mahasiswa Menggunakan ChatGPT (Sumber: Artificial Intelligence Center Indonesia)
Ilustrasi AI Mahasiswa Menggunakan ChatGPT (Sumber: Artificial Intelligence Center Indonesia)

Dari survei ini, ada beberapa alasan utama mengapa mahasiswa memanfaatkan ChatGPT, salah satunya efisiensi waktu. Mahasiswa merasa ChatGPT dapat membantu menyelesaikan tugas lebih cepat, terutama untuk tugas-tugas berulang seperti merangkum bacaan atau mencari referensi.


Kedua, sebagai teman bertukar pikiran atau yang kerap kali disebut sebagai brainstorming. ChatGPT menjadi andalan bagi mahasiswa untuk memberikan kerangka atau bayangan awal dari membuat sebuah proyek atau penugasan. 


Menurut Harry Sufehmi, seorang pakar IT sekaligus pendiri Mafindo, AI akan sangat membantu masyarakat dengan perannya sebagai asisten atau pendukung yang efektif dalam proses belajar-mengajar. Mahasiswa jadi bisa lebih fokus ke hal-hal yang lebih strategis karena pekerjaan yang repetitif dapat diserahkan kepada AI, seperti ChatGPT.


"Mahasiswa jadi seperti memiliki asisten yang siap membantu selama 24 jam. Jadi, bisa bertanya banyak dan mengetahui informasi-informasi yang dibutuhkan sesuai dengan tugasnya,” ujar Harry.


Hal ini serupa dengan apa yang dirasakan oleh Jessica Angelina, mahasiswa Jurusan Public Relation, Fakultas Ilmu Komunikasi di Universitas Esa Unggul. Ia bercerita bahwa ChatGPT memang sering ia gunakan sebagai pembantu dan pendamping dalam mengerjakan pekerjaan perkuliahan.


“Chat GPT membantu saya membuka “pintu” untuk mengerjakan sesuatu. Jika saya bingung dengan langkah dalam mengerjakan sesuatu, Chat GPT membantu saya menjawab bagaimana cara saya menyelesaikannya,” ujar Jessica.


Namun, meskipun ChatGPT mempermudah proses pembelajaran, penggunaannya juga menimbulkan dilema. Beberapa mahasiswa mulai khawatir terhadap ketergantungan AI yang dapat mengurangi kemampuan berpikir mereka.


Survei ini menunjukkan bahwa ChatGPT menjadi alat yang sangat populer di kalangan mahasiswa, terutama di Fakultas Teknik, Bisnis, dan Ilmu Komunikasi. Pola penggunaan yang berbeda mencerminkan kebutuhan yang unik dari masing-masing fakultas.


Dari ketiga fakultas tersebut, Fakultas Ilmu Komunikasi menjadi fakultas yang paling memungkinkan untuk bersaing dengan AI. Hal ini juga terbukti dengan keyakinan kuat para mahasiswa ilmu komunikasi yang merasa akan tergantikan.


Bagi Fakultas Teknik, yang digalang sebagai pembuat dari kecerdasan buatan, justru merasa paling yakin bahwa AI tidak akan menggantikan mereka atau bersaing dengan mereka. Di lain sisi, Fakultas Bisnis merasa netral, dan telah memahami bahwa akan ada beberapa bidang yang berpotensi menjadi lawan, tetapi juga yakin bahwa banyak peluang untuk menjadi teman dengan AI. 


Penting bagi mahasiswa untuk memahami batasan penggunaan teknologi ini. Meskipun ChatGPT dapat menjadi alat yang sangat bermanfaat, mahasiswa tetap harus menjaga integritas akademik dan memastikan bahwa mereka menggunakan AI sebagai pendukung, bukan pengganti kemampuan berpikir kritis dan kreativitas mereka.


Teknologi seperti ChatGPT adalah pedang bermata dua. Di satu sisi, teknologi ini memberikan kemudahan dan efisiensi. Namun, di sisi lain, ada risiko ketergantungan yang dapat menghambat perkembangan keterampilan individu. Oleh karena itu, mahasiswa diharapkan dapat memanfaatkan teknologi ini dengan bijak demi menunjang kesuksesan akademik dan profesional mereka di masa depan.


Artikel ini merupakan tugas Ujian Akhir Semester untuk mata kuliah Data Driven Storytelling. Mata kuliah ini diampu oleh Utami Diah Kusumawati, M.A. dan Ingki Rinaldy, M.A. serta asisten lab Chatarina Ivanka, Ignatia Sarasvati, dan Tiara Febriani.



Tim penyusun artikel: 

Dessy Chandra, Clarisa Renata, Kezia Laurencia, Peter Jonathan, Risalyne Alexis 



Metode survei: 

Survei ini dilakukan dengan rentang waktu sembilan hari dari (4/11/24) hingga (12/11/24) kepada tiga fakultas yang paling digemari di Indonesia. Ketiga fakultas tersebut mencakup Ilmu Komunikasi, Bisnis, dan Teknik. Kami menyebarkan survei kepada kurang lebih 80 mahasiswa di setiap fakultasnya (total 240 mahasiswa)  yang berada di universitas swasta Jakarta. Survei dilakukan melalui form dengan penilaian skala satu hingga empat dengan keterangan sebagai berikut:

  1. sangat buruk / tidak pernah

  2. buruk / jarang

  3. baik / sering 

  4. sangat baik / selalu



 
 
 

Comments


Data-driven Storytelling Universitas Multimedia Nusantara

bottom of page