Fenomena Pengeluaran Penggemar K-pop Gen Z di Jabodetabek: Antara Loyalitas dan Gaya Hidup
- Data-driven Storytelling UMN
- Dec 15, 2024
- 6 min read
Updated: Dec 16, 2024

Serpong – Musik Korean pop (K-pop) kini menjadi salah satu genre paling populer di Indonesia. Tidak hanya menikmati karya musik para idolanya, penggemar K-pop juga rela merogoh kocek dalam untuk membeli berbagai merchandise, album, hingga tiket konser. Fenomena ini menggambarkan bagaimana penggemar K-pop, terutama dari generasi Z di Jabodetabek, memandang pengeluaran terkait idola mereka sebagai bagian dari loyalitas sekaligus gaya hidup.
Namun, banyak penggemar rela menghabiskan sebagian besar pendapatannya demi memiliki kedekatan emosional dengan idola mereka, baik melalui barang-barang koleksi maupun pengalaman langsung seperti konser dengan rentang harga ratusan hingga jutaan rupiah.
Hal ini dirasakan oleh Nadine Wiriano dan Stephanie. Keduanya cukup sering membeli barang dan tiket konser untuk mendukung idola mereka.
Perilaku seperti ini sejatinya bukan suatu hal negatif. Karlina Octaviany, seorang antropolog digital, mengatakan bahwa sebagai penggemar wajar bila idola akan menjadi prioritas mereka. Namun, cara mengatur keuangan yang jadi inti masalahnya.
“Ketika suatu penggemar sudah menantikan idolanya datang, itu akan menjadi kebutuhan prioritasnya mereka sendiri. Tapi itu semua perlu direncanakan. K-pop mengeluarkan harga dengan rentang terbawah hingga teratas dengan kelompok target masing-masing,” ujar Karlina.
Data Global dan Posisi Indonesia dalam Konsumsi K-pop
Berdasarkan laporan analisis Luminate, sebuah perusahaan riset pasar musik asal Amerika Serikat, ditemukan bahwa total streaming dari 100 artis K-pop teratas mencapai Rp90,4 miliar sepanjang tahun 2023. Dari angka tersebut, Indonesia menduduki posisi ketiga dengan jumlah streaming sebesar Rp7,4 miliar, hanya kalah dari Amerika Serikat dan Jepang.
Rasa Cinta Penggemar Gen Z kepada Idola
Di tengah fenomena ini, Nadine Wiriano (16), seorang pelajar asal Tangerang, adalah salah satu penggemar K-pop yang rela mencurahkan sebagian besar uang sakunya untuk mendukung boyband favoritnya, NCT. Dari uang saku Rp2,5 juta per bulan yang diberikan keluarganya, Nadine mengaku menghabiskan lebih dari Rp1 juta setiap dua bulan untuk membeli merchandise seperti album dan photocard dari boyband favoritnya.
“Kadang tuh suka boros banget di merch karena suka beli album sama photocard. Soalnya kan lucu-lucu ya kalau mereka (NCT) comeback tuh pcnya (photocard) ganti-ganti dan makin lucu, jadi nggak bisa nahan buat nggak beli,” ujarnya saat dihubungi melalui Direct Message (DM) Instagram.
Tidak berhenti pada merchandise, Nadine juga rutin menghadiri konser boyband idolanya. Ia selalu berusaha mendapatkan tempat duduk di area tengah hingga depan, yang biasanya memiliki harga lebih mahal dibandingkan dengan kursi lain.

Stephanie (26), yang akrab disapa Steph, seorang karyawan sekaligus penggemar boyband EXO dan NCT. Berbeda dengan Nadine, Steph mengaku lebih sering mengeluarkan uang untuk idolanya saat ada comeback atau event tertentu.
Steph sering kali membeli merchandise dan tiket konser dalam setiap kesempatan. Namun, ia mengakui bahwa harga merchandise, album, dan tiket konser tergolong cukup mahal.
“Harganya memang mahal, beberapa barang bahkan overpriced. Tapi ada juga yang sesuai dengan kualitas dan desainnya. Kalau untuk tiket konser, memang cukup mahal juga, tapi menurut saya masih wajar untuk sesekali,” ujarnya.
Pengeluaran Terbesar Penggemar pada Album
Tim redaksi pun melakukan survei yang melibatkan 100 penggemar K-pop kalangan gen Z di Jabodetabek untuk mengukur seberapa besar pengorbanan atau kerelaan mereka dalam mendukung idolanya.

Hasil analisis menunjukkan adanya perbandingan antara rata-rata pendapatan atau uang saku penggemar dengan rata-rata pengeluaran untuk merchandise, album, dan tiket konser.
Secara umum, jumlahnya hampir setara. Khusus untuk pembelian tiket konser, karyawan menjadi kelompok dengan rata-rata pendapatan tertinggi sekaligus pengeluaran terbesar untuk merchandise dan tiket konser. Rata-rata pengeluaran karyawan dapat mencapai Rp3,5 juta, atau lebih dari separuh pendapatan rata-rata mereka.
Dibandingkan dengan mahasiswa dan pelajar, karyawan dan wirausaha menunjukkan daya beli yang lebih kuat. Meski demikian, mahasiswa dan pelajar tetap menjadi pasar potensial, terutama untuk produk dengan harga yang lebih terjangkau.

Harga Jual Produk K-Pop
Revany Azryna, pemilik grup order (GO) asal Tangerang Selatan, berbagi pengalamannya dalam menjalankan bisnis penjualan merchandise K-pop melalui sistem pre-order. Ia menjelaskan bahwa harga produk yang ditawarkan dalam grup order sangat bervariasi, mulai dari Rp7.000 hingga Rp30.000 per item. Namun, pengeluaran pembeli dalam satu transaksi bisa mencapai Rp14.000 hingga Rp300.000, tergantung pada jenis dan jumlah barang yang dibeli.
“Untuk rata-rata, saya tidak bisa memastikan karena setiap barang memiliki harga yang berbeda, tapi biasanya kalau mereka cari merchandise, harga per item itu sekitar 0,05-0,2 KRW (Won Korea), yang kalau dirupiahkan sekitar Rp7.000-Rp30.000. Itu sudah termasuk harga barang, belum termasuk dengan ongkir.

Biasanya, saya juga menambahkan biaya adminnya sebesar Rp2.000 per item. Untuk pengeluaran pembeli, rata-rata sekitar Rp14.000-Rp50.000, tapi ada juga yang bisa mencapai Rp100.000 hingga Rp300.000, tergantung jenis barang yang dibeli,” ujar Revany.
Sebagai bentuk profesionalisme dalam bisnisnya, Revany juga menawarkan jaminan uang kembali 100 persen bagi pembeli yang mengalami masalah dalam proses pemesanan atau pengiriman. Ia menjelaskan bahwa hal ini menjadi suatu komitmen utama dalam menjaga kepercayaan pembeli.
“Untuk jaminan uang kembali, pastinya 100 persen. Beberapa GO lain mungkin hanya mengembalikan separuh uang jika terjadi masalah, tapi di tempat saya, uangnya kembali penuh, karena saya menganggap itu adalah kesalahan saya. Kecuali kalau pembeli melakukan personal order dengan link dari mereka, jadi kalau kena scam, uangnya tidak bisa dikembalikan, karena itu adalah kesalahan pembeli,” jelas Revany.

Loyalitas Penggemar Terjadi di Semua Fandom
Karlina Octaviany, seorang antropolog digital yang menyoroti budaya K-pop sekaligus menjadi penggemar BTS, memberikan pandangannya mengenai fenomena ini. Menurutnya, merupakan hal wajar ketika penggemar mengeluarkan biaya untuk idolanya karena hal ini ini tidak hanya terjadi di kalangan penggemar K-pop, tetapi juga di antara penggemar genre lainnya.
“Karena konser itu kan fenomena ya. Suatu hal yang ada kaitannya sama momentum juga. Jadi ketika satu penggemar yang sudah menanti-nantikan idolanya datang, itu akan jadi prioritas mereka sendiri,” jelas Karlina.
Menurut Karlina, masalah yang perlu disoroti adalah cara generasi Z memahami literasi keuangan. Pemahaman literasi keuangan ini membantu para penggemar untuk memilah prioritas dan kesanggupan daya beli tanpa mengurangi kesenangan pada idola mereka.
“Aku pikir yang hilang juga ketika bicara narasi ketika bicara konsumsi adalah apakah kita punya akses finansial yang cukup untuk bisa mengetahui kebutuhan dan keinginan. Semua ini intinya adalah literasi keuangan ya, terutama di gen Z dimana terkadang orang belum belajar adalah tentang bagaimana mengelola literasi keuangan untuk barang koleksi, ” kata Karlina.
Ada Faktor Kapitalisasi dan Melawan Musik Amerika Serikat
Karlina juga menyoroti maraknya merchandise, album, dan tiket konser yang mahal disebabkan oleh kapitalisasi industri musik Korea Selatan untuk melawan Amerika Serikat. Ia juga berpendapat merchandise, album, dan tiket yang mahal sebanding dengan kualitas yang diberikan, tidak seperti kelompok penggemar lain.
“Ya pertama memang ada ya kapitalisasi. Dari awal sih sebenernya ada photocard itu sendiri ketika diluncurkan kan tujuannya untuk itu ya, untuk koleksi. Coba bandingin album barat dengan album K-pop, dengan pricing point yang sama, quality yang didapat dengan produk koleksi yang di dalamnya berbeda jauh. Produk K-pop masih memperhatikan fisik produknya,” jelas Karlina.
Selain itu, ia memberikan saran kepada penggemar K-pop untuk bijak memilah lingkar pertemanan daring. Alasannya sebagian besar penggemar K-pop beraktivitas di media sosial seperti Twitter, Instagram, dan sebagainya.
“Aku pikir lingkar pertemanan sehat itu, kalian bukan me-judge apa yang teman kalian lakukan, tetapi ingetin aja misalnya tentang maksimal budget untuk pembelian photocard dalam sebulan. Kalian bisa kayak gitu sebagai teman yang nonkolektor. Jadi saling mengingatkan aja sih di dalam pertemanannya itu kalau ada batas dalam konsumsi yang perlu dikelola,” tambahnya.
Loyalitas penggemar K-pop merupakan fenomena yang mencerminkan ikatan emosional antara para idola dan penggemar mereka. Fenomena ini didukung oleh keterlibatan aktif penggemar dalam mendukung karier idola mereka melalui berbagai platform media sosial, acara, dan pembelian produk. Penggemar seringkali menunjukkan dukungan mereka dengan membeli merchandise resmi, album, dan berbagai produk lainnya, yang tidak hanya sebagai bentuk apresiasi terhadap karya idola, tetapi juga sebagai simbol keterikatan mereka.
Penggemar terutama dari kalangan gen Z perlu mensiasati cara mereka mengatur keuangan mereka dalam memberikan cinta kepada idola mereka. Tidak memberikan jumlah besar, bukan berarti mengurangi keloyalitasan sebagai penggemar.
Penulis: Monika Putri Setiarini, Nadhira Izzati Andani, Putri Cahya Valentina, Theresia Sekar Kinanti Deviatri
Foto: Putri Cahya Valentina
Analisis Data: Nadhira Izzati Andani
Sumber: luminate.com
Chan, Alexandra. (2023). Mapping out K-Pop’s global dominance. Luminate Data. https://luminatedata.com/blog/mapping-out-k-pops-global-dominance/
Artikel ini merupakan tugas Ujian Akhir Semester untuk mata kuliah Data Driven Storytelling. Mata kuliah ini diampu oleh Utami Diah Kusumawati, M.A. dan Ingki Rinaldy, M.A. serta asisten lab Chatarina Ivanka, Ignatia Sarasvati, dan Tiara Febriani.




Comments