Menelusuri Pilihan Hidup Childfree dan Bebas Anak di Perekonomian Masa Kini
- Data-driven Storytelling UMN
- Dec 16, 2024
- 6 min read

JAKARTA, KELOMPOK5.COM - Tren “Childfree” merupakan sebuah fenomena yang ramai dibicarakan masyarakat belakangan ini. Banyak faktor dan penyebab kenapa seseorang memutuskan untuk menjadi childfree.
“Dari awal iya, kalau aku pribadi dari awal, goal-nya tuh bukan punya anak gitu loh, jadi memang dari awal bukan itu goal kita, dan along the way emang ternyata lebih comfortable seperti ini,” ucap Vinta melalui wawancara yang dilakukan secara daring, Senin (18/11/2024).
Yuvinta Riandisty (38), salah satu co-founder dari komunitas Otherhood Indonesia, sebuah komunitas childfree di Indonesia secara aktif dan sadar membatasi dirinya untuk memiliki anak dan memilih untuk childfree. Vinta sendiri mengatakan bahwa alasannya memilih untuk menjadi childfree adalah karena memang kepribadiannya yang ingin memprioritaskan banyak hal selain memiliki anak, karena tanggungan untuk membesarkan anak juga berat.
Jika Vinta memilih untuk Childfree karena prioritas berbeda dengan Veronica Wilson (49) yang juga merupakan salah satu individu yang memutuskan untuk childfree, mengatakan bahwa terdapat beberapa faktor yang menjadi pertimbangan dalam keputusannya untuk tidak memiliki anak atau keturunan. Salah satunya, kesehatan dan usia. “Kenapa? Karena berbagi banyak alasan, termasuk karena saya pikir umur, kesehatan, dan juga alasan bahwa saya tidak mau kalau punya anak itu, karena kan genetik itu dari ibu ya, jadi saya tidak mau kalau punya anak, terus turun genetik saya ke mereka karena saya sendiri punya hubungan yang tidak terlalu bagus dengan ibu.” tutur Veronica melalui wawancara daring, Kamis (12/12/2024).

Jumlah individu yang memutuskan childfree atau bebas anak di Indonesia cenderung meningkat. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) di tahun 2023, persentase perempuan yang memilih untuk childfree di tahun 2022 mencapai angka 8,2 persen di seluruh Indonesia, atau sekitar 71 ribu orang. Angka tersebut mengalami peningkatan 1,2 persen dari tahun 2019.
Menurut Agrillo dan Nelini, childfree adalah istilah yang digunakan untuk individu-individu yang secara sadar memilih untuk tidak memiliki anak atau yang lebih dikenal dengan sukarela tanpa anak. Sedangkan itu, Vinta mengatakan bahwa baginya, childfree merupakan sebuah pola pikir.
Een Herdiani (57) seorang profesor seni budaya dan guru besar di ISBI Bandung mengatakan bahwa fenomena ini telah terjadi di berbagai negara seperti Korea dan Jepang. Een mengatakan bahwa childfree atau bebas anak juga merupakan pilihan pasangan untuk tidak memiliki anak, dimana konsep ini berkembang di berbagai negara terutama di negara-negara yang maju. Fenomena childfree ini juga merupakan sebuah topik perdebatan di berbagai negara termasuk di Indonesia.
Faktor Finansial Mendorong Keputusan Untuk Childfree
Faktor–faktor orang memutuskan untuk childfree sangatlah bervariasi, Yuvinta (38) berkata bahwa terdapat beragam faktor yang akhirnya membuatnya menjadi childfree. Vinta berkata bahwa secara pribadi, ia memutuskan untuk menjadi childfree karena faktor preferensi, mental dan kesiapan, serta finansial.
“Kapasitas seorang itu selain emosional, mental, financial, everything gitu loh, semua kondisi diri kita tuh kita harus aware kan, ketika mau nambah manusia gitu ke dunia, nah itu tentunya salah satu pertimbangan kita berdua gitu,” tutur Vinta.
Hal ini juga kembali diutarakan oleh Indah Murtiningsih (32), yang mengatakan bahwa memiliki anak merupakan sebuah tanggung jawab yang besar, serta harus mengupayakan anak tersebut menjadi sosok yang mandiri. Indah juga mengatakan bahwa faktor finansial juga menjadi salah satu pertimbangannya dalam membangun sebuah keluarga dan memiliki anak.
“Untuk secara materi pertama membutuhkan uang yang lebih banyak, tapi banyak orang yang bilang kalau di usaha pasti akan ada aja. Cuman lebih berpikir mempunyai anak bukan hanya sebatas keinginan saja tapi bagaimana nanti kita harus bertanggung jawab terhadap anak itu sampai mandiri” ucap Indah melalui interviu yang dilakukan secara daring pada Kamis (12/12/2024).

Dari segi finansial dan perekonomian, hal ini juga bisa menjadi salah satu faktor pendukung orang-orang memutuskan untuk childfree. Stella Kusumawardhani (33) merupakan seorang economist yang saat ini bekerja di PT Bank Mandiri (Persero) memberikan pendapatnya mengenai fenomena childfree ini. Menurutnya, tuntutan pertumbuhan ekonomi yang semakin tinggi mempengaruhi daya seseorang untuk membangun sebuah keluarga. Indonesia, yang merupakan negara berkembang memiliki jam kerja yang panjang sehingga berdampak ke Total Fertility Rate (TFR) di Indonesia. Namun, Fasilitas kesehatan dan child care yang affordable bisa menjadi salah satu faktor peningkatan tingkat fertilitas di Indonesia.
Dari sisi ekonomi sendiri, memiliki anak merupakan sebuah tantangan. Apalagi di era modern ini, tantangan ekonomi modern yang terus berkembang dan persaingan yang semakin ketat membuat banyak keluarga mulai menyadari bahwa mempunyai banyak anak itu tidak selalu membawa banyak rezeki, tetapi bahkan sebaliknya. Hal ini menyebabkan banyak keluarga yang membatasi diri mereka dalam memiliki anak atau bahkan memutuskan untuk childfree.

Jumlah dari Angka Kelahiran Total atau Total Fertility Rate (TFR) di Indonesia cenderung menurun. Dilansir dari data Badan Pusat Statistik yang diterbitkan di tahun 2023, angka total kelahiran di tahun 2020 mengalami penurunan dari tahun 2000 sejumlah 0,16 persen. Hal ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor.
“Jadi, dengan tuntutan pertumbuhan ekonomi yang semakin tinggi, itu menyebabkan terutama negara-negara yang masih berkembang gini, jadinya jam kerjanya itu lebih panjang, dan ini juga berdampak ke birth rate tadi. Karena orang sibuk kerja, kayaknya nggak sempat punya anak, jadi merunda. Jadi, makanya salah satu yang diusahakan untuk meningkatkan birth rate bagi ibu-ibu yang bekerja adalah menyediakan child care yang affordable.” Tutur Stella melalui wawancara daring, Kamis (5/12/2024)
Stella juga mengatakan bahwa nilai Upah Minimum Provinsi (UMP) di Indonesia tidak cukup untuk membiayai kebutuhan keluarga. Stella berkata bahwa UMP merupakan berapa uang yang harus diperoleh seseorang untuk hidup layak, dan jumlah UMP ini hanya cukup untuk membiayai suatu individu saja.
“Jadi, UMP itu sebenarnya dihitung dari kebutuhan orang yang single. Jadi, kalau ditanya kalau misalnya UMP cukup untuk berkeluarga atau enggak? Enggak, karena memang UMP itu dilihat dari berapa biaya orang untuk hidup layak yang single. Jadi, itulah salah satu alasan juga kenapa sulit untuk orang-orang yang berpenghasilan UMP atau sulit bagi orang-orang yang penghasilannya UMP apalagi di bawah untuk memenuhi kebutuhan anak yang layak.” tutur Stella

Dilansir dari website dari Satudata, dapat dilihat bahwa jumlah UMP yang sudah ditetapkan oleh pemerintah berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 51 Tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun 2021 Tentang Pengupahan, termasuk upah minimum bagi provinsi baru di Indonesia. Angka dari data diatas dituliskan dalam bentuk Rupiah. Dapat dilihat bahwa setiap tahunnya, jumlah UMP di provinsi D.K.I Jakarta naik setiap tahunnya.

Sedangkan apabila dilihat dari data yang dilansir dari Survei Biaya Hidup yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) di tahun 2018, biaya rata-rata pengeluaran rumah tangga di DKI Jakarta mencapai angka Rp 13.455.613. Hal ini menunjukkan bahwa rata-rata biaya hidup di DKI Jakarta mencapai angka yang lebih tinggi dari UMP yang ditetapkan di tahun 2024.
Menurut Stella, memiliki anak dan membangun sebuah keluarga lebih dari sekedar pertimbangan ekonomi, melainkan terdapat faktor kebudayaan juga yang mempengaruhi keputusan untuk memiliki anak.
“Tapi, ini kembali lagi ke punya anak itu kan sesuatu yang lebih dari pertimbangan ekonomi, sebenarnya budaya mungkin lebih banyak berpengaruh ke situ. Karena kita masih ada anggapan yang banyak anak banyak rezeki. Jadi, mau se-tertekan apapun keadaan ekonominya, untuk masyarakat yang percayakan itu, mereka akan tetap terus punya anak.” Ucap Stella.
Pandangan “Banyak Anak Banyak Rezeki” Tidak Lagi Relevan

Budaya “Banyak Anak Banyak Rezeki” sudah lazim didengar oleh masyarakat Indonesia. Een Herdiani, seorang profesor seni budaya memberikan tanggapan dan definisinya terkait stigma ini. Een mengatakan bahwa stigma ini sudah menjadi pandangan atau keyakinan yang sudah berkembang sejak dulu di masyarakat, yaitu dengan semakin banyaknya anak yang dimiliki maka semakin banyak juga keberuntungan dan rezeki yang diperoleh. Tentunya, pandangan ini juga dipengaruhi oleh nilai-nilai tradisional dan sosial.
“Banyak yang menganggap anak itu sebagai sumber kebahagiaan. Anak itu sebagai penerus keluarga, bahkan adanya masyarakat mempunyai pandangan bahwa anak sebagai aset yang akan mendatangkan keberuntungan ekonomi di masa depan.” Tutur Een.
Namun, menurut Een, secara realistis pandangan ini tidak selalu akurat apalagi di dalam kehidupan masyarakat yang modern dan memasuki era globalisasi. Hal ini disebabkan oleh pandangan sebagian masyarakat yang menganggap bahwa stigma “Banyak Anak Banyak Rezeki’ tidak lagi relevan seperti dulu.
Beberapa kalangan masyarakat terutama di pedesaan, masih mempercayai stigma ini, tetapi jika dilihat dari sisi geografis, masyarakat di perkotaan cenderung memiliki pemikiran yang berbeda. Di era modern ini, banyak orang yang lebih memikirkan kualitas hidup sang anak dan memilih untuk memiliki sedikit anak agar mereka bisa memberikan pendidikan yang lebih baik dan layak.
Senada dengan pernyataan Een, Stella juga mengatakan bahwa di era modern ini, kualitas hidup sang anak merupakan hal yang penting untuk diperhatikan. Namun, bila perekonomian masyarakat dan pertumbuhan gaji meningkat, maka mungkin Total Fertility Rate (TFR) di Indonesia juga akan semakin meningkat. “Karena kalau misalnya pertumbuhan gajinya di atas dari pertumbuhan inflasi, berarti kan dia tidak akan melihat harga barang itu semakin mahal. Jadi, itu akan lebih supporting untuk si orang itu memiliki anak.” ucap Stella melalui wawancara daring yang dilakukan pada Kamis (5/12/2024).
Head Concept Director : Christian Aaron Satria
Reporter/Writer : Christian Aaron Satria
Data Visualisation : Christian Aaron Satria, Valencia Eugene Tania
Data Analyst : Christian Aaron Satria, Valencia Eugene Tania, Khalista Nurul Lestari
Interview Transcription : Valencia Eugene Tania, Catherine Vianca Nitasha Matulessy
Source Researcher : Khalista Nurul Lestari, Valencia Eugene Tania
Documentation : Semua Anggota Tim
Researcher : Semua Anggota Tim
Artikel ini merupakan tugas Ujian Akhir Semester untuk mata kuliah Data Driven Storytelling. Mata kuliah ini diampu oleh Utami Diah Kusumawati, M.A. dan Ingki Rinaldy, M.A. serta asisten lab Chatarina Ivanka, Ignatia Sarasvati, dan Tiara Febriani.




Comments