PNEUMONIA : ANCAMAN BERBAHAYA BAGI BALITA, TETAPI LUPUT PERHATIAN ORANG TUA
- Data-driven Storytelling UMN
- Dec 16, 2024
- 7 min read

7 bulan hidup dengan kondisi tubuh yang naik turun, mengalami sesak nafas, dan batuk serta flu tak henti, merupakan gambar kehidupan sehari-hari Muhammad Azmi Azhar, seorang bayi berusia 7 bulan yang terdiagnosa mengidap pneumonia akut. Azmi adalah satu dari sekian banyak kisah balita pengidap pneumonia sejak dini. Gejala ini mulai Azmi rasakan pada pertengahan April 2024.
“Di bulan pertengahan April itu, anak saya batuk-batuk, agak dalam batuknya. Beda tuh suaranya antara nafas atas dengan nafas bawah. Di situ, saya sudah ke faskes (fasilitas kesehatan) satu (ke) BPJS memeriksakan. Namun, belum ada diagnosa yang pasti dari puskesmas tersebut,” ucap Gatot Ari Wibowo, orang tua dari Azmi, saat diwawancarai oleh tim secara daring pada Sabtu (16/11/2024).
Namun, 2 minggu kemudian, Azmi mulai batuk-batuk kembali hingga akhirnya orang tuanya memutuskan untuk melakukan cek darah. Hasil leukositnya cukup tinggi, yakni di atas 12 ribu, dan diindikasikan terkena virus. Secara tiba-tiba, kondisi Azmi kembali membaik dan dalam kondisi normal selama satu bulan. Di awal September, suhu badan Azmi tiba-tiba melonjak tinggi secara drastis sampai 40 derajat celcius. Bahkan, sudah 12 jam berlalu, panasnya tak kunjung turun. Azmi kembali dibawa ke puskesmas yang sama. Dokter dari puskesmas tersebut memberikan obat kepada Azmi dan mulai menduga bahwa Azmi mengidap pneumonia. Setelah dibawa ke rumah sakit dan menjalani beberapa pemeriksaan, salah satunya metode inkubasi, akhirnya telah dipastikan bahwa Azmi mengidap penyakit pneumonia.
Fenomena Pneumonia pada Balita

Azmi adalah salah satu kasus dari sekian banyaknya kasus balita yang terkena pneumonia. Berdasarkan perolehan data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang, rata-rata penemuan kasus pneumonia pada bayi dan balita tahun 2020-2023 mencapai angka 240,9 kasus. Tahun 2024 memegang angka kasus tertinggi selama periode 4 tahun tersebut, yaitu ditemukan kasus-kasus pneumonia pada 20.322 balita (0-59 bulan). Ketua Tim Kerja Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Nani Rizkiyati menyatakan, bahwa kasus pneumonia sempat menurun saat pandemi Covid-19. Namun, angka kasus kembali melonjak pascapandemi.
“Kalau kemarin memang menurun saat pandemi, karena harus membatasi kerumunan. Kemudian, orang juga takut berkunjung ke faskes, takut di covid kan jadi tidak nyaman sehingga setelah pandemi, itu (kembali) naik lagi. Karena banyak kunjungan yang datang dengan keluhan batuk dan sukar bernapas untuk balitanya,” kata Nani Rizkiyati pada Kamis (28/11/2024).
Dilansir dari artikel yankes.kemkes.go.id, pneumonia merupakan peradangan akut pada jaringan paru (alveoli) yang disebabkan oleh adanya mikroorganisme sehingga alveoli dipenuhi cairan dan membuat penderita sulit bernapas. Penyakit ini dianggap berbahaya karena menjadi pembunuh nomor satu bayi dan balita. Setiap tahunnya, menurut UNICEF terdapat 1,3 juta anak di dunia yang meninggal akibat penyakit mematikan ini, dan setiap 30 detik, 1 anak meninggal karena pneumonia. Di Kabupaten Tangerang sendiri, misalnya di Rumah Sakit Carolus, kasus pneumonia mengalami peningkatan
“Banyak kasus pneumonia di Rumah Sakit Carolus terutama saat musim kemarau, sejak bulan Juli sampai Oktober angka pneumonia relatif meningkat. Namun, untuk sekarang sudah menurun jauh, justru angka diare yang meningkat”, ucap Dewi Surya Kusuma, dokter anak Rumah Sakit Carolus, saat diwawancarai pada Selasa (3/12/2024)
Penyebab pneumonia dapat disebabkan oleh virus, bakteri, dan jamur. Bakteri streptococcus pneumoniae dan haemophilus influenzae tipe B merupakan penyebab utama pada bayi dan balita. Selain itu, terdapat beberapa faktor lainnya, seperti ketidaklengkapan pemberian imunisasi dasar pada bayi dan balita, pemberian ASI yang tidak optimal dari 6 bulan pertama, meningkatnya polusi udara, gizi anak yang tidak seimbang, anak menghirup asap rokok, dan riwayat penyakit menahun atau lebih dari satu kondisi secara bersamaan. Nyatanya, pneumonia merupakan penyakit menular dan dapat ditularkan melalui percikan air ludah saat batuk atau bersin. Untuk itu, orangtua perlu mengetahui gejala-gejala pneumonia yang umum dialami balita, seperti batuk disertai dengan napas cepat dan sesak napas. Gejala tersebut dapat disertai dengan retraksi atau Tarikan Dinding Dada ke Dalam (TDDK).
Kenali Penyakit Pneumonia Sedari Dini

Asap Rokok dan Polusi Udara Sebabkan Pneumonia Pada Balita

Kualitas udara memiliki pengaruh yang sangat signifikan bagi kesehatan sistem pernapasan, karena udara selalu masuk ke paru-paru melalui hidung. Sayangnya, Indonesia memiliki kualitas udara yang buruk bagi kesehatan sistem pernapasan. Dilansir dari AQI (Indeks Kualitas Udara) tahun 2023, Indonesia merupakan negara yang berpolusi buruk dengan kualitas udara yang tidak sehat. Berdasarkan data yang diperoleh melalui Badan Pusat Statistik mengenai indeks kualitas udara di Kabupaten Tangerang, capaian di tahun 2022 merupakan kualitas udara terbaik selama periode waktu 3 tahun tersebut. Namun, di tahun 2023, capaian indeks kualitas udara di Kabupaten Tangerang kembali mengalami penurunan.
Kualitas udara yang menurun disebabkan oleh beberapa faktor, seperti asap rokok dan polusi udara. Gatot Ari Wibowo juga turut mengungkapkan hal tersebut. Ia mengaku bahwa ia adalah seorang perokok dan sering membawa anaknya bepergian dengan sepeda motor. Menurutnya, pola hidup seperti ini memiliki pengaruh signifikan terhadap kesehatan pernapasan anaknya sehingga menjadi salah satu faktor pendukung bahwa anaknya bisa terpapar pneumonia. “Anak saya juga, baru lahir 7 hari, sudah saya bawa ke puskesmas dekat rumah dengan menggunakan motor. Tapi jalur (yang dilalui) jalur truk semua dan banyak pasir. Itu pun menjadi salah satu awareness dari keluarga. Hindari polutan seperti asap rokok, bakar sampah, obat nyamuk bakar. Asap-asap tersebut memang bukan faktor utama, tetapi faktor pendukung” ucap Gatot Ari Wibowo, orang tua dari Azmi.
Strategi Kabupaten Tangerang Tangani Pneumonia pada Balita

Pada 28 November 2024, Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang mengadakan kegiatan tatalaksana P2 ISPA (Pneumonia) dengan mengundang Nani Rizkiyati selaku Ketua Tim Kerja ISPA Kementerian Kesehatan untuk membagikan materi terkait pneumonia. Kegiatan ini dihadiri oleh perwakilan puskesmas di berbagai wilayah Kabupaten Tangerang dengan tujuan untuk membantu mendalami gejala pneumonia dan strategi dalam mengatasi pneumonia pada balita. Saat memperlihatkan data kasus pneumonia balita dan data balita yang sembuh, Nani memberikan pujian kepada Kabupaten Tangerang karena berhasil menangani kasus pneumonia secara cepat dan efektif.
Program ini adalah satu bukti dari strategi dalam pencegahan pneumonia pada balita. Selain program tersebut, kunci keberhasilan Kabupaten Tangerang untuk menangani kasus pneumonia adalah lewat peningkatan peran serta lintas program dan lintas sektor terkait. Menurut penuturan Dita Andriani Daud Suyadi selaku tim Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kabupaten Tangerang, hal ini dilakukan untuk pengendalian faktor risiko pneumonia seperti asap rokok, pencemaran udara, kepadatan penduduk, dan gerakan rumah sehat dengan indikator penilaian meliputi ventilasi dan pencahayaan yang cukup. Selain itu, pihak P2P juga membagikan indikator keberhasilan mereka dalam penanganan penyakit pneumonia. “Tentu saja indikator keberhasilannya adalah peran serta petugas (medis) terhadap keluarga pasien dalam memberikan advokasi penanganan pneumonia sesuai tata laksananya. Peran keberhasilan juga berkat dukungan dari semua pihak.” ucap Dita Andriani Daud Suyadi, saat diwawancarai secara daring pada Sabtu (16/11/2024)

'
Selain program tatalaksana, pemberian vaksin juga menjadi salah satu upaya preventif dari Kabupaten Tangerang yang efektif untuk meningkatkan penanganan kasus pneumonia. Di tahun 2022 dan 2023, kasus pneumonia di Kabupaten Tangerang sempat mengalami penurunan yang signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Hal ini merupakan dampak positif sebagai hasil pemberlakuan kebijakan vaksin PCV (pneumococcal conjugate vaccine) sejak tahun 2022. Jika dibandingkan dengan tahun-tahun lainnya, kasus pneumonia di tahun 2022 dan 2023 relatif menurun semenjak pemberlakuan vaksin PCV (pneumococcal conjugate vaccine).
Ditinjau dari segi penanganan, pihak Dinas Kesehatan dan seluruh puskesmas di Kabupaten Tangerang tergolong sigap dan cekatan dalam memberikan pelayanan terbaik, khususnya bagi pasien pneumonia. Hal ini dibuktikan dengan fakta bahwa tidak ada kasus pneumonia pada balita yang sampai menyebabkan kematian. Menurut Dita Andriani Daud Suyadi, biasanya jika balita melakukan vaksin selalu diberikan buku KIA (Kesehatan Ibu dan Anak) sebagai pengingat kapan waktu anak harus kembali divaksin. Jika pasien tidak berkunjung di hari ketiga setelah datang ke fasilitas kesehatan pertama kali atau saat obat terakhir habis, maka pihak Puskesmas akan langsung ke rumah pasien tersebut untuk menanyakan kondisi terkini pasien setelah melakukan pengobatan. Pihak P2P sendiri juga selalu mengingatkan puskesmas terkait (program) tata laksananya jangan sampai salah atau tidak dilakukan.
Nani juga menegaskan terkait aturan vaksinasi harus dilakukan sebanyak 3 kali, yaitu dosis pertama pada bulan kedua, dosis kedua pada bulan keempat, dan dosis ketiga pada bulan keenam. Jika jadwal vaksinasi anak telah melewati batas, anak tetap harus langsung di vaksin secepatnya dan langsung dicatat tanggalnya untuk bisa melanjutkan ke vaksin berikutnya.
Solusi Atasi Pneumonia
Namun, orangtua tidak perlu khawatir, terdapat beberapa cara pencegahan yang dapat dilakukan untuk mencegah pneumonia pada balita. Dengan memberikan ASI eksklusif, menggunakan masker, menutup mulut serta hidung saat batuk atau bersin, dan melakukan imunisasi dasar secara lengkap dapat menjadi beberapa cara pencegahan yang efektif. Ada beberapa jenis imunisasi atau vaksin yang dapat diberikan kepada bayi dan balita sesuai dengan usia serta virus penyebab pneumonia, yaitu vaksin bayi 2-4 bulan DPT untuk mencegah pneumonia yang disebabkan oleh bakteri pertusis, vaksin HIB (haemophilus influenzae B) untuk mencegah pneumonia yang disebabkan oleh bakteri haemophilus influenzae tipe B, dan vaksin PCV (pneumococcal vaccine) bayi 2-12 bulan untuk mencegah pneumonia akibat 13 jenis bakteri pneumokokus.
Gatot Ari Wibowo, selaku orang tua dari anak yang mengidap pneumonia, membagikan beberapa kiat dan langkah pencegahan yang efektif untuk mencegah balita terkena penyakit pneumonia.
“(Jangan lupa) cuci tangan, pakai masker bagi yang sakit, hindari kerumunan yang terlalu penuh, hindari dari polutan seperti asap rokok, bakar sampah, obat nyamuk bakar. Saran saya adalah, kalau memang ayahnya masih mau merokok mau enggak, silahkan. Tapi, pulang ke rumah, tolong jangan dekati anak dulu. Kalau mau mendekati, mandi wajib (dahulu), artinya ayahnya harus benar-benar steril dari ujung kepala sampai kaki,” ujar Gatot.
Penulis Artikel : Abel Oktavian, Angelina Senjaya, Lyvia Rose Zanisya.
Reporter : Angelina Senjaya, Eunike Michelle, Natasha Suhendra, Viola Jovita.
Visualisasi Data : Eunike Michelle dan Natasha Suhendra.
Fotografer : Abel Oktavian dan Lyvia Rose Zanisya
Analisis Data : Viola Jovita
Designer Infografis : Abel Oktavian
Artikel ini merupakan tugas Ujian Akhir Semester untuk mata kuliah Data Driven Storytelling. Mata kuliah ini diampu oleh Utami Diah Kusumawati, M.A. dan Ingki Rinaldy, M.A. serta asisten lab Chatarina Ivanka, Ignatia Sarasvati, dan Tiara Febriani.




Comments