Rokok Elektrik: Tren yang Meningkat dengan Risiko Kesehatan yang diabaikan
- Data-driven Storytelling UMN
- Dec 15, 2024
- 5 min read

Rokok elektrik, atau biasa disebut dengan vape/pods, sedang mendapatkan popularitas yang meningkat khususnya di kalangan anak muda. Rokok elektrik bahkan dianggap sebagai solusi alternatif untuk para penikmat rokok biasa yang ingin mencoba sesuatu yang lebih sehat.
Rokok elektrik sering kali dipercaya lebih aman dan tidak dengan menyengat dibandingkan dengan rokok biasa dikarenakan kurangnya dampak pada kesehatan dan kurang penyaringannya sehingga tidak tercium aroma rokok. Hal ini membuat rokok elektrik lebih disukai oleh para penyandang rokok biasa yang ingin mencari solusi pengganti yang lebih sehat atau bahkan membuat penikmat rokok biasa menjadi penasaran dengan rokok elektrik.
Penggunaan rokok elektrik semakin populer, terutama di kalangan anak muda. Banyak orang beralih dari rokok konvensional ke rokok elektrik dengan anggapan bahwa produk ini lebih aman dan tidak memiliki bau menyengat. Namun, para ahli kesehatan memperingatkan bahwa rokok elektrik memiliki risiko kesehatan yang sama besar, terutama terhadap paru-paru.
Apa Kata Dokter tentang Rokok Elektrik?
Audley, seorang ahli kesehatan, menegaskan bahwa baik rokok konvensional maupun rokok elektrik sama-sama memiliki efek buruk terhadap kesehatan, khususnya paru-paru. "Pernyataan bahwa vape atau rokok elektrik lebih aman daripada rokok konvensional itu tidak benar. Baik rokok maupun vape sama-sama berbahaya bagi kesehatan. Perlu dicatat bahwa vape masih dalam penelitian jangka panjang karena merupakan produk baru, berbeda dengan rokok yang sudah ada sejak lama," jelas Audley.
Menurut Audley, klaim bahwa rokok elektrik lebih aman belum dapat dibuktikan secara ilmiah. Ia menekankan bahwa meskipun rokok elektrik tidak menghasilkan tar seperti rokok konvensional, kandungan kimia di dalamnya tetap berpotensi merusak paru-paru. Selain itu, efek jangka panjang dari penggunaan rokok elektrik masih dalam proses penelitian lebih lanjut.
Tidak hanya perokok aktif, perokok pasif juga menghadapi risiko kesehatan yang serius akibat paparan asap rokok, baik dari rokok konvensional maupun elektrik. Menurut Audley, paparan asap rokok dapat menyebabkan berbagai penyakit, baik akut maupun kronis. Dalam jangka pendek, perokok pasif berisiko mengalami infeksi saluran pernapasan atas, seperti pneumonia, terutama pada anak-anak. Sementara itu, paparan jangka panjang dapat menyebabkan asma dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK).
Audley menyarankan agar masyarakat menghindari paparan asap rokok untuk melindungi kesehatan mereka. "Cari lingkungan yang lebih sehat, pindah tempat, atau ganti tongkrongan yang tidak merokok," tambahnya. Langkah ini dinilai efektif untuk mengurangi risiko kesehatan akibat paparan asap rokok.
Meskipun risiko kesehatan rokok elektrik telah diketahui, banyak pengguna yang tetap memilih produk ini. Mereka menganggap rokok elektrik lebih praktis dan nyaman digunakan. Selain itu, rokok elektrik dinilai lebih bersih karena tidak meninggalkan bau menyengat seperti rokok konvensional. Hal ini menjadi salah satu alasan mengapa rokok elektrik semakin diminati.
Lebih Praktis, Kurang Bau: Mengapa Rokok Elektrik Menarik Perokok Muda Penting untuk diingat bahwa kenyamanan tersebut tidak sebanding dengan risiko kesehatan yang ditimbulkan. Kesadaran akan bahaya rokok elektrik perlu terus ditingkatkan agar masyarakat dapat membuat keputusan yang lebih bijak demi menjaga kesehatan mereka dan lingkungan sekitarnya.
Seorang perokok aktif berusia 19 tahun menyadari bahwa kebiasaan merokok, termasuk penggunaan rokok elektrik, dapat menyebabkan penyakit paru-paru dan mengganggu saluran pernapasan. Namun, ia memilih menggunakan rokok elektrik karena dianggap lebih praktis dibandingkan rokok konvensional. "Kalau rokok konvensional bikin bau mulut dan asapnya bikin bau. Rokok elektrik lebih wangi dan nggak ribet karena nggak perlu pakai korek," jelasnya. Selain itu, ia juga memahami pentingnya meminimalisir dampak merokok terhadap orang lain. Oleh karena itu, ia lebih memilih merokok di tempat yang sudah menyediakan fasilitas khusus untuk perokok agar tidak mengganggu orang di sekitarnya.
Sementara itu, seorang perokok aktif lainnya yang berusia 25 tahun memahami bahwa merokok, termasuk penggunaan rokok elektrik, dapat menyebabkan gangguan pada kesehatan, khususnya paru-paru dan saluran pernapasan. Ia memilih rokok elektrik karena memiliki variasi rasa yang lebih beragam dan dianggap lebih hemat dibandingkan dengan rokok konvensional. Ia juga mengetahui pentingnya meminimalkan dampak merokok terhadap orang lain. "Cara saya meminimalisir dampaknya adalah dengan menjaga jarak dari orang lain saat merokok dan hanya merokok di area yang diperbolehkan, seperti smoking area," ungkapnya.
Berdasarkan pengalaman para pengguna, rokok elektrik lebih menarik dibandingkan rokok konvensional karena alasan kepraktisan, variasi rasa, dan dianggap lebih ramah dalam berbagai situasi.
Meskipun Sadar Dampak Kesehatan, Pengguna Rokok Elektrik Tetap Merokok

Pengguna rokok elektrik yang menyadari dampak negatif dari penggunaan produknya namun tetap memilih untuk menggunakannya, bahkan hingga lebih dari 20 kali sehari, mencerminkan hubungan antara kesadaran dan perilaku adiktif. Di antara ribuan senyawa dalam tembakau, nikotin menjadi penyebab utama ketergantungan. Nikotin bekerja dengan merangsang reseptor di otak yang memicu pelepasan dopamin, senyawa kimia yang memengaruhi perasaan senang, motivasi, dan kepercayaan diri. Mekanisme ini menciptakan jalur imbalan di otak, yang membuat perokok sulit berhenti meskipun menyadari risiko kesehatannya.
Survei menunjukkan bahwa banyak perokok memiliki kebiasaan merokok yang intens, bahkan lebih dari 20 kali sehari. Mayoritas dari mereka sudah paham akan bahaya rokok. Fakta ini menegaskan kuatnya efek adiktif nikotin dalam membentuk pola ketergantungan yang sulit diatasi.
Tempat Umum Jadi Lokasi Paling Sering Paparan Asap Rokok Elektrik
Data menunjukkan bahwa tempat umum seperti kafe, restoran, dan jalanan merupakan lokasi utama terjadinya paparan asap rokok elektrik. Angka paparan di tempat-tempat ini jauh lebih tinggi dibandingkan lingkungan pribadi seperti rumah, maupun lingkungan pendidikan, seperti kampus dan sekolah. Fenomena ini menunjukkan bahwa penggunaan rokok elektrik cenderung lebih banyak terjadi di lingkungan sosial. Hal ini erat kaitannya dengan tren gaya hidup modern, dimana rokok elektrik seringkali dianggap sebagai simbol status atau bagian dari aktivitas sosial di kalangan penggunanya.

Namun, dampak dari kebiasaan ini tidak hanya dirasakan oleh pengguna rokok elektrik tersebut. Orang-orang yang ada di sekitarnya termasuk mereka yang tidak merokok atau bisa disebut perokok pasif, juga terpapar risiko kesehatan akibat asap yang dihasilkan. Kondisi ini diperlukan regulasi lebih ketat untuk melindungi kesehatan publik. Tanpa regulasi yang ketat, penggunaan rokok elektrik di tempat umum dapat terus meningkat, mengabaikan masyarakat. Hak masyarakat untuk mendapatkan lingkungan yang bersih dan sehat. Oleh karena itu, diperlukan langkah konkret dari pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya untuk memperkuat regulasi, seperti pembatasan penggunaan rokok elektrik di tempat umum, kampanye edukasi, serta penegakan aturan yang tegas. Para perokok pasif merasa bahwa keberadaan asap rokok elektrik di tempat umum masih menjadi masalah serius, meskipun beberapa lokasi telah menerapkan area khusus untuk larangan merokok. Sayangnya, implementasi kebijakan ini belum sepenuhnya efektif, sehingga hak masyarakat untuk menikmati udara bersih seringkali terabaikan. Dalam upaya menciptakan lingkungan yang lebih sehat, dibutuhkan kerja sama antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat untuk meningkatkan kesadaran serta memastikan penegakan aturan berjalan dengan lebih tegas dan konsisten.
Popularitas rokok elektrik di kalangan anak muda terus meningkat karena dianggap lebih praktis, wangi, dan modern. Namun, risiko kesehatan yang ditimbulkan tidak bisa diabaikan. Kesadaran masyarakat terhadap bahaya rokok elektrik perlu terus ditingkatkan, disertai dengan upaya kolektif untuk memperkuat regulasi dan melindungi kesehatan publik. Dengan langkah ini, diharapkan masyarakat dapat membuat keputusan yang lebih bijak untuk kesejahteraan mereka dan lingkungan sekitar.
Penulis: Kezia, Raissa, Vanya, Mayar
Data Analyst: Raissa
Foto: Vanya
Visualisasi: Mayar




Comments